MEDAN : Siang itu, sekitar pukul 13.00 WIB, suasana Jalan Perintis Kemerdekaan, Medan, mendadak berubah mencekam. Sebuah angkot Rahayu 103, melaju dengan kecepatan tinggi menuju Jalan Letda Sujono, tiba-tiba menabrak dua becak yang terparkir di pinggir jalan.

Insiden ini bukan hanya mengakibatkan kerusakan parah pada kendaraan, tetapi juga menimbulkan kepanikan dan kekhawatiran di antara para saksi mata.

Menurut keterangan Erni, seorang warga sekitar, angkot tersebut melaju dengan sangat kencang. “Kencang kali angkot itu,” ujarnya, masih terngiang-ngiang suara dentuman keras yang mengagetkannya. Becak pertama yang menjadi korban, terparkir tepat sebelum halte, tertabrak dengan keras hingga terlempar. Saksi mata menggambarkan adegan dramatis: becak tersebut seolah “terbang”, menghantam tiang halte hingga ambruk sebelum akhirnya berhenti.

Tragedi tak berhenti sampai di situ. Momentum tabrakan pertama begitu kuat sehingga becak yang pertama tersebut, setelah menghantam halte, menabrak becak kedua yang juga terparkir di dekat halte. Becak kedua, milik seorang tukang tambal ban bernama Agus Salim (46), nyaris menjadi korban.

Agus, yang sedang memperbaiki becak di dekat lokasi kejadian, beruntung mampu mengelak dan menyelamatkan diri. “Kalau tidak mengelak tadi mungkin saya sudah meninggal,” ucapnya, masih terguncang oleh kejadian yang hampir merenggut nyawanya.

Sementara itu, pengemudi angkot Rahayu 103, Lukas Sipayung, memberikan keterangan yang mengejutkan. Ia mengaku mengantuk saat mengemudi. “Merem (menutup mata) tadi aku, tiba-tiba ngantuk,” katanya dengan raut wajah menyesal. Kehilangan kendali atas stir, angkot yang dikemudikannya oleng ke kiri dan menabrak becak pertama. Akibatnya, dua becak rusak parah dan harus dievakuasi dari lokasi kejadian.

Lebih lanjut, Lukas menjelaskan bahwa saat kejadian ia tidak membawa penumpang. Ia sedang dalam perjalanan menuju Pancing. Namun, pengakuannya tentang rasa kantuk tak mampu meringankan beban kesalahannya. Kecepatan yang berlebih, di tengah padatnya lalu lintas, telah mengakibatkan kecelakaan beruntun yang berpotensi menimbulkan korban jiwa.

Korban luka dalam kecelakaan ini adalah penarik becak pertama yang ditabrak. Erni menjelaskan, “Tukang becak yang pertama ditabrak kakinya terlikir.” Agus, tukang tambal ban, beruntung lolos dari maut. Ia telah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian sebagai saksi.

Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan berkendara. Mengantuk saat mengemudi adalah faktor risiko yang sangat tinggi dan dapat mengakibatkan kecelakaan fatal.

Kecepatan yang berlebihan juga merupakan penyebab utama kecelakaan lalu lintas. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pengguna jalan, untuk selalu mengutamakan keselamatan dan mematuhi peraturan lalu lintas. (Tim)

Editor Redaksi : A01