SIMALUNGUN – Upaya meningkatkan kualitas Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit tidak hanya bergantung pada produktivitas kebun, tetapi juga pada pemahaman para petani khusus pekerja panen sawat terhadap standar panen dan sistem penerimaan buah di pabrik. Berangkat dari komitmen tersebut, CV RN Bersaudara bersama Sawit Pro, mitra pembinaan perkebun sekaligus mitra Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) PPLI, menggelar kegiatan Sosialisasi Pembinaan Petani Sawit dan Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) Penerimaan TBS, Jumat (24/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Nagori Buntu Turunan, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun ini dihadiri Pangulu Nagori Buntu Turunan Roberton Nainggolan, SE yang akrab disapa Bang RN, perwakilan Sawit Pro Amar Nainggolan beserta tim, serta puluhan pemanen yang bekerja di kebun dari unit usaha CV RN Bersaudara.
Sosialisasi tersebut menjadi bagian dari program pembinaan berkelanjutan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan para petani dan pemanen mengenai teknik budidaya, tata cara panen yang benar, hingga pemenuhan standar kualitas TBS agar sesuai dengan ketentuan Pabrik PPLI di Huta Padang, Kecamatan Pasir Mandoge, Kabupaten Simalungun.
Dalam paparannya dijelaskan bahwa Sawit Pro merupakan perusahaan pendamping yang bergerak di bidang pembinaan, edukasi, dan digitalisasi perkebunan kelapa sawit. Kehadirannya bertujuan membantu pekebun dan petani sawit guna meningkatkan produktivitas hasil kebun sawit melalui penerapan budidaya yang baik, mulai dari perawatan, pemupukan berimbang, pengendalian gulma dan hama, perawatan tanaman, pengelolaan panen, hingga pencatatan hasil produksi secara lebih modern.
Program pembinaan tersebut juga diarahkan agar para petani mampu menghasilkan TBS dengan kualitas tinggi sehingga memiliki daya saing di pasar dan memperoleh harga jual yang optimal.
Dalam kegiatan itu, para peserta mendapat penjelasan secara rinci mengenai Standar Operasional Prosedur (SOP) Penerimaan TBS yang diterapkan Pabrik PPLI. SOP tersebut menjadi acuan utama dalam menentukan apakah buah sawit layak diterima atau harus ditolak saat proses grading di pabrik.
Beberapa poin penting yang disampaikan kepada peserta antara lain:
- TBS harus dipanen pada tingkat kematangan optimal, ditandai dengan jumlah brondolan yang telah memenuhi standar.
- Buah mentah tidak diperbolehkan dipanen karena memiliki kandungan minyak yang rendah dan dapat menurunkan kualitas produksi CPO.
- Tandan yang terlalu matang, busuk, atau mengandung banyak kotoran juga berpotensi dikenakan potongan kualitas.
- TBS yang telah dipanen harus segera diangkut ke pabrik agar kadar asam lemak bebas (Free Fatty Acid/FFA) tidak meningkat, karena keterlambatan pengiriman dapat menurunkan mutu minyak sawit.
- Proses panen harus dilakukan dengan teknik yang benar agar tidak merusak pohon dan tetap menjaga produktivitas tanaman pada musim panen berikutnya.
Melalui penerapan SOP tersebut, diharapkan seluruh buah yang dikirim ke Pabrik PPLI memenuhi standar kualitas sehingga tidak mengalami penolakan maupun pemotongan harga.
Dalam sambutannya, Bang RN mengajak seluruh pemanen menjadikan kegiatan tersebut sebagai sarana belajar bersama.
“Hari ini kita berkumpul bukan untuk mencari kesalahan siapa pun, tetapi untuk belajar bersama. Kita berdiskusi santai sambil ngopi agar semua memahami bagaimana cara memanen yang benar sesuai standar pabrik. Kalau masih ada buah mentah yang dipanen, tentu akan merugikan kita sendiri karena bisa ditolak atau dikenakan potongan saat diterima di pabrik,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa saat ini CV RN Bersaudara telah memiliki Delivery Order (DO) resmi sebagai pemasok TBS ke Pabrik PPLI. Kepercayaan tersebut harus dijaga dengan menghasilkan buah berkualitas sesuai standar.
“Kepercayaan dari pabrik harus kita pertahankan. Caranya sederhana, panenlah buah yang benar-benar matang sesuai SOP. Jika kualitas terjaga, hubungan kemitraan akan semakin kuat dan hasil yang diterima petani juga semakin baik,” tambah Bang RN.
Sementara itu, perwakilan Sawit Pro, Amar Nainggolan, menegaskan bahwa pembinaan kepada petani tidak boleh berhenti hanya pada satu kegiatan sosialisasi. Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor perkebunan merupakan investasi jangka panjang yang akan berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani.
Ia menjelaskan bahwa banyak kerugian yang dialami petani sebenarnya dapat dicegah apabila proses panen dilakukan sesuai standar. Buah mentah yang dipanen terlalu cepat tidak hanya menyebabkan penolakan di pabrik, tetapi juga mengurangi rendemen minyak yang menjadi dasar penilaian kualitas TBS.
“Kami berharap seluruh pemanen memahami bahwa setiap tandan yang dipanen memiliki nilai ekonomi. Karena itu, panen harus dilakukan pada waktu yang tepat. Jangan hanya mengejar jumlah, tetapi utamakan kualitas. Kualitas yang baik akan memberikan keuntungan bagi petani, mitra, maupun pabrik,” jelas Amar.
Menurutnya, kemitraan antara Sawit Pro, CV RN Bersaudara, dan Pabrik PPLI merupakan bentuk sinergi yang saling menguntungkan. Petani memperoleh pendampingan teknis, mitra mendapatkan pasokan TBS berkualitas, sementara pabrik memperoleh bahan baku yang memenuhi standar pengolahan.
Selain membahas teknik panen, peserta juga diberikan edukasi mengenai pentingnya penerapan praktik perkebunan yang berkelanjutan. Petani didorong untuk melakukan pemupukan sesuai kebutuhan tanaman, menjaga kesuburan tanah, memanfaatkan teknologi digital dalam pencatatan produksi, serta menerapkan keselamatan kerja selama kegiatan panen.
Melalui pembinaan yang berkesinambungan, diharapkan petani sawit di Kecamatan Hatonduhan mampu meningkatkan produktivitas kebun, menghasilkan TBS berkualitas tinggi, memperkuat kemitraan dengan Pabrik PPLI, serta meningkatkan kesejahteraan keluarga petani.
Kegiatan berlangsung penuh antusias dengan sesi diskusi dan tanya jawab antara peserta dan narasumber. Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi para pemanen, acara ditutup dengan penyerahan bingkisan berupa beras kepada seluruh peserta yang mengikuti kegiatan sosialisasi dan pembinaan.
(Tim)












