SIMALUNGUN — Kepedulian terhadap penyandang disabilitas kembali ditunjukkan Reinhard Raji Manurung melalui aksi sosial yang dilakukannya pada 2 September 2026.
Pria kelahiran 6 Mei 2003 itu mendatangi sejumlah penyandang disabilitas dari rumah ke rumah. Bukan sekadar membawa bantuan, Raji memilih hadir untuk berbicara, berbagi cerita, sekaligus mendengarkan secara langsung berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Bagi Raji, kepedulian terhadap penyandang disabilitas tidak seharusnya dibangun atas dasar rasa kasihan.
“Penyandang disabilitas bukan untuk dikasihani, melainkan untuk diperhatikan dan dianggap sama derajatnya dengan manusia lain,” tegas Raji.
Raji dikenal sebagai influencer TikTok melalui akun SI OPPUNG_MANS. Aktivitas sosial tersebut bukan kali pertama dilakukannya. Ia menyebut kegiatan itu sebagai bagian dari komitmen dan dedikasinya untuk membantu sesama penyandang disabilitas yang memiliki pengalaman hidup serupa dengannya.
Menurut Raji, ukuran kepedulian tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar bantuan yang diberikan. Terkadang, kehadiran untuk mendengarkan dan memahami persoalan seseorang justru memiliki arti yang jauh lebih besar.
Karena itu, ia memilih turun langsung dan bertemu dari rumah ke rumah. Dengan cara tersebut, Raji dapat melihat kondisi penerima manfaat secara lebih dekat sekaligus mendengarkan keluh kesah mereka.
“Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Mulailah dari hal kecil dan sederhana,” ujarnya.
Raji berharap masyarakat tidak lagi melihat penyandang disabilitas hanya dari keterbatasan yang dimiliki.
Menurutnya, di balik keterbatasan fisik terdapat kemampuan, potensi, dan keinginan untuk menjalani kehidupan secara mandiri. Karena itu, penyandang disabilitas membutuhkan kesempatan, akses, perhatian, dan perlakuan yang setara.
Ia menilai stigma dan perlakuan diskriminatif masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
Kesetaraan, kata Raji, tidak cukup hanya dibicarakan. Nilai tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap menghormati, mendengarkan dan memberikan ruang yang sama kepada penyandang disabilitas.
Dukungan terhadap kegiatan sosialnya juga datang dari para pengikut di TikTok. Melalui aktivitas siaran langsung di akun SI OPPUNG_MANS, Raji mendapatkan dukungan dari sejumlah pengikut yang turut membantu keberlangsungan aksi sosial tersebut.
Raji menyampaikan apresiasi atas kepercayaan dan dukungan yang diberikan para pendukungnya. Ia berharap dukungan itu dapat terus menjadi energi untuk melakukan kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dalam berbagai kesempatan saat melakukan siaran langsung, Raji juga kerap menyampaikan pesan agar masyarakat tidak hanya memikirkan apa yang dapat diperoleh, tetapi juga apa yang dapat diberikan kepada sesama.
“Jangan tanya dirimu apa yang akan kamu dapat, tapi tanyalah dulu dirimu sendiri apa yang sudah kamu perbuat,” katanya.
Selain mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian, Raji berharap pemerintah, khususnya Pemerintah Kabupaten Simalungun melalui Dinas Sosial, semakin serius dalam memperjuangkan pemenuhan hak penyandang disabilitas.
Menurutnya, perhatian terhadap penyandang disabilitas tidak cukup hanya dalam bentuk bantuan sesaat. Yang tidak kalah penting adalah memastikan hak mereka terpenuhi secara berkelanjutan, termasuk kesempatan untuk berpartisipasi secara setara dalam kehidupan sosial.
Raji juga mengingatkan bahwa perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas telah memiliki dasar hukum melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
Ia berharap amanat regulasi tersebut benar-benar diwujudkan dalam kehidupan masyarakat sehingga penyandang disabilitas mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi.
Bagi Raji, perjuangan mewujudkan kesetaraan bukan tanggung jawab satu pihak. Pemerintah, masyarakat, komunitas, keluarga, dan penyandang disabilitas sendiri memiliki peran yang saling melengkapi.
Melalui aksi sosial pada 2 September 2026, Raji kembali menunjukkan bahwa kepedulian tidak harus menunggu seseorang memiliki kehidupan yang serba berkecukupan.
Dari rumah ke rumah, ia memilih hadir, berbagi dan mendengarkan.
Pesannya sederhana, tetapi kuat: penyandang disabilitas bukan objek belas kasihan. Mereka adalah warga negara yang memiliki hak untuk dihormati, didengar, diperhatikan, diberi kesempatan, dan diperlakukan setara.
(Tim)











