SIMALUNGUN – Ada kisah yang tidak lahir dari kesamaan keyakinan, tetapi justru tumbuh dari rasa kemanusiaan.

Di Kelurahan Pematang Raya, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun, sebuah peristiwa sederhana menghadirkan pesan yang jauh lebih besar dari sekadar bantuan material. Ketika sebuah jemaat kecil tengah berjuang membangun rumah ibadah, uluran tangan justru datang dari seseorang yang berbeda iman.

Adalah Dr. H. Novri Ompusunggu, SH., MH, seorang tokoh Muslim yang berdomisili di Jakarta. Namanya dikenal di kalangan masyarakat Muslim, khususnya di Kabupaten Simalungun dan Kota Pematangsiantar, sebagai sosok yang memiliki kepedulian terhadap sesama.

Namun kali ini, kepeduliannya hadir di tengah jemaat Gereja Kemenangan Iman (GKI) Imanuel Pematang Raya.

Haji Novri memberikan bantuan 200 sak semen untuk mendukung pembangunan gedung gereja tersebut.

Bantuan itu bukan lahir karena hubungan seiman. Bukan pula karena kepentingan tertentu. Informasi mengenai kesulitan jemaat dalam memenuhi kebutuhan material pembangunan gereja menjadi alasan yang cukup untuk menggerakkan hatinya.

Di situlah nilai bantuan tersebut terasa berbeda.

Sebab, bagi jemaat GKI Imanuel, 200 sak semen bukan sekadar tumpukan material bangunan. Di balik setiap sak semen ada harapan agar pembangunan rumah ibadah yang selama ini diperjuangkan dapat terus berjalan.

Gembala Jemaat GKI Imanuel Pematang Raya, Pdt. Tumbur Nadeak, S.Th., bahkan mengaku sulit mempercayai ketika kabar bantuan itu sampai kepada mereka.

“Serasa ini sangat mustahil bagi kami. Tetapi begitulah cara Tuhan berperkara. Yang tidak mungkin bagi kami, Tuhan membuat menjadi sangat mungkin,” ujar Pdt. Tumbur, Rabu (12/8/2026).

Kalimat itu menggambarkan bagaimana bantuan tersebut hadir di tengah kondisi ketika jemaat sedang membutuhkan.

Menurut Pdt. Tumbur, jemaat sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan perhatian dari seorang tokoh Muslim seperti Haji Novri Ompusunggu.

Namun justru di situlah mereka melihat bahwa kebaikan tidak selalu datang dari orang yang memiliki latar belakang sama. Kadang, pertolongan hadir dari arah yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya.

“Kami bersyukur dan berterima kasih untuk hal yang luar biasa ini. Karena betul-betul terjadi di luar dugaan. Di saat kami sangat membutuhkan, Bapak Haji Novri Ompusunggu langsung memberi bantuan,” ungkapnya.

Bagi jemaat, bantuan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa perbedaan agama tidak semestinya menjadi tembok yang memisahkan manusia untuk berbuat baik.

Pdt. Tumbur pun menyampaikan doa dan harapannya kepada Haji Novri beserta keluarga.

“Semoga Bapak Haji Novri dan keluarga tetap sehat, murah rezeki dan apa pun yang menjadi cita-cita beliau dikabulkan Tuhan,” katanya.

Peristiwa di Pematang Raya ini menjadi gambaran bahwa toleransi bukan hanya tentang bagaimana seseorang menghormati keyakinan orang lain.

Toleransi yang sesungguhnya terkadang hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: membantu ketika orang lain kesulitan, tanpa bertanya terlebih dahulu apakah ia berasal dari agama yang sama.

Haji Novri tidak datang membawa perbedaan. Ia datang membawa kepedulian.

Jemaat GKI Imanuel pun menerima bantuan tersebut bukan semata-mata sebagai material pembangunan, melainkan sebagai pesan persaudaraan yang jauh lebih besar.

Di tengah masyarakat yang majemuk, peristiwa seperti ini menjadi penting. Sebab kerukunan tidak selalu lahir dari forum resmi, spanduk, atau seruan tentang toleransi.

Kerukunan justru sering tumbuh dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan tulus.

Satu tangan mengulurkan bantuan. Tangan lainnya menerima dengan rasa syukur.

Tidak ada yang kehilangan keyakinannya. Tidak ada yang harus mengubah agamanya.

Yang hadir adalah kemanusiaan.

Dan dari 200 sak semen itu, sebuah pesan sederhana tetapi kuat kembali terdengar dari Simalungun:

Berbeda dalam iman bukan alasan untuk berbeda dalam kepedulian.

Sebab ketika rumah ibadah dibangun dengan semen, persaudaraan antarmanusia juga sedang dibangun dengan ketulusan.

(Tim)