SIMALUNGUN — Bukan sekadar duduk mendengarkan sambutan. Ratusan masyarakat Nagori Pulo Bayu, Kecamatan Huta Bayu Raja, Kabupaten Simalungun, memanfaatkan momentum Reses Masa Persidangan III Tahun Sidang 2025/2026 untuk menyampaikan langsung berbagai kebutuhan, persoalan dan harapan kepada Wakil Ketua DPRD Kabupaten Simalungun, Bonauli Rajagukguk, S.H.

Kegiatan reses tersebut menjadi ruang dialog langsung antara wakil rakyat dengan masyarakat. Berbagai aspirasi yang muncul dari warga menjadi bagian penting untuk dihimpun dan selanjutnya diperjuangkan melalui mekanisme DPRD serta pemerintah daerah.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Camat Huta Bayu Raja Risdoni Sinaga, S.H., Pangulu Nagori Pulo Bayu beserta jajaran, Babinsa, Bhabinkamtibmas, sejumlah OPD, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama serta ratusan masyarakat.

Reses merupakan salah satu bentuk pelaksanaan tugas DPRD dalam menyerap aspirasi masyarakat. Landasan penyelenggaraan pemerintahan daerah dan kedudukan DPRD antara lain diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah serta Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (MD3) beserta perubahan dan ketentuan pelaksanaannya.

Melalui kegiatan reses, anggota DPRD dapat bertemu langsung dengan konstituen di daerah pemilihan, menyerap aspirasi, mengetahui persoalan yang terjadi di lapangan serta memperoleh masukan sebagai bahan dalam menjalankan fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan.

Aspirasi masyarakat yang dihimpun dalam reses selanjutnya dapat menjadi bahan dalam proses perencanaan dan pembahasan pembangunan daerah, tentunya dengan mempertimbangkan kewenangan, skala prioritas dan kemampuan keuangan daerah.

Bonauli Rajagukguk menegaskan bahwa dirinya tidak ingin kegiatan reses hanya menjadi agenda formalitas.

Menurutnya, pertemuan langsung dengan masyarakat sangat penting untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan.

“Kita datang ke sini untuk mendengar langsung. Apa yang menjadi kebutuhan dan persoalan masyarakat, kita catat. Setelah itu kita perjuangkan sesuai kewenangan dan mekanisme yang ada,” ujar Bonauli.

Ia mengatakan, aspirasi masyarakat merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Namun, ia juga menyadari bahwa tidak semua usulan dapat direalisasikan secara bersamaan.

“Tidak mungkin semua aspirasi langsung terealisasi sekaligus. Ada proses, ada skala prioritas dan ada kemampuan anggaran daerah. Tetapi bukan berarti aspirasi masyarakat kita abaikan,” tegasnya.

Bonauli memastikan aspirasi yang disampaikan masyarakat akan menjadi bahan untuk dibawa dalam pembahasan di DPRD Kabupaten Simalungun.

“Yang penting masyarakat menyampaikan apa yang benar-benar dibutuhkan. Tugas kami sebagai wakil rakyat adalah memperjuangkan dan mengawal aspirasi tersebut agar dapat ditindaklanjuti sesuai aturan,” katanya.

Kehadiran Camat Huta Bayu Raja Risdoni Sinaga, S.H., bersama Pangulu dan jajaran pemerintahan nagori, Babinsa, Bhabinkamtibmas serta sejumlah OPD memberikan ruang lebih luas bagi masyarakat untuk menyampaikan berbagai persoalan secara langsung.

Tidak hanya unsur pemerintahan dan aparat keamanan, tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh agama juga hadir dan ikut memberikan warna dalam dialog tersebut.

Keterlibatan berbagai unsur ini dinilai penting karena sejumlah aspirasi masyarakat membutuhkan sinergi lintas sektor agar dapat ditindaklanjuti secara tepat.

Ada momen yang menarik perhatian di penghujung kegiatan. Setelah seluruh rangkaian reses selesai, Bonauli Rajagukguk secara langsung membagikan paket sembako kepada anak-anak yatim yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Dengan penuh kepedulian, Bonauli menyerahkan paket bantuan tersebut sebagai bentuk perhatian dan kepeduliannya terhadap anak-anak yatim di Nagori Pulo Bayu.

Pemberian sembako tersebut sekaligus menjadi penutup kegiatan reses yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan.

Bonauli berharap bantuan tersebut dapat memberikan manfaat dan sedikit meringankan kebutuhan anak-anak yatim.

Baginya, kepedulian terhadap masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui perjuangan aspirasi pembangunan, tetapi juga melalui perhatian terhadap warga yang membutuhkan.

Reses pun ditutup dengan pesan sederhana: suara masyarakat harus didengar, aspirasi harus diperjuangkan, dan kepedulian kepada sesama harus terus dijaga.

(F.Gultom)