PEMATANGSIANTAR – Jalan Merdeka berubah menjadi lautan haru. Ribuan umat Katolik memadati kawasan depan Balai Kota Pematangsiantar, mengikuti prosesi Jalan Salib (Via Dolorosa) dalam peringatan Jumat Agung yang berlangsung penuh penghayatan dan emosi mendalam.

Bukan sekadar ritual, prosesi ini menjelma menjadi pengalaman batin yang mengguncang. Saat adegan demi adegan penderitaan Yesus Kristus diperagakan, suasana perlahan berubah dari hening menjadi pilu. Puncaknya, ketika penyaliban divisualisasikan—tangis jemaat pecah tanpa bisa dibendung.

Di bawah terik matahari yang menyengat, ribuan pasang mata tertuju pada satu titik: sosok Yesus yang dipaku di kayu salib. Sejumlah jemaat terlihat menutup wajah, menundukkan kepala, bahkan terisak. Momen itu terasa begitu nyata, seolah membawa setiap orang ikut berjalan di jalur penderitaan yang sama.

“Tidak sanggup menahan air mata. Ini bukan hanya dilihat, tapi dirasakan sampai ke dalam hati,” ucap Samuel dengan suara bergetar, matanya masih basah.

Sekitar seribuan jemaat dari berbagai paroki larut dalam prosesi yang sarat makna tersebut. Setiap langkah Jalan Salib menjadi refleksi mendalam tentang dosa, pengorbanan, dan kasih yang tak terhingga.

Di balik suasana duka yang menggema, tersimpan pesan kuat tentang kemanusiaan dan pengampunan. Prosesi ini menjadi pengingat bahwa pengorbanan bukan sekadar kisah, melainkan nilai yang hidup dan harus dihayati.

Ketua Panitia Paskah Katolik Kota Pematangsiantar, Sardianto Turnip, menegaskan bahwa pelaksanaan Jalan Salib di ruang publik menjadi simbol nyata kuatnya toleransi di kota ini.

“Ini bukan hanya ibadah, tetapi juga cermin kebersamaan. Terima kasih kepada pemerintah kota yang telah memberi ruang, serta aparat yang memastikan kegiatan berjalan aman,” ujarnya.

Pengamanan dari jajaran kepolisian membuat seluruh rangkaian ibadah berlangsung tertib, meski dihadiri ribuan orang. Harmoni antara iman, budaya, dan toleransi tampak menyatu dalam satu momentum yang langka.

Jumat Agung di Pematangsiantar tahun ini bukan sekadar peringatan, melainkan peristiwa yang meninggalkan jejak emosional mendalam—tentang luka, kasih, dan pengampunan yang melampaui kata.


Tim