SIMALUNGUN – Di tengah keberagaman masyarakat Kabupaten Simalungun, Pondok Persulukan Serambi Babussalam kembali menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan dalam damai dan penuh persaudaraan.
Perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di Pondok Persulukan Serambi Babussalam, Nagori Jawa Tongah, Kecamatan Hatonduhan, tahun ini bukan hanya menjadi momentum ibadah bagi umat Muslim, tetapi juga menjadi gambaran nyata indahnya toleransi antarumat beragama yang hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.
Sebanyak 15 ekor sapi kurban disembelih di pondok persulukan yang dipimpin Tuan Guru Batak (TGB) Syach Ahmad Sabban Elrahmany Rajagukguk, MA. Hewan-hewan kurban tersebut berasal dari para donatur yang terdiri dari pejabat, pengusaha, anggota legislatif, serta tokoh masyarakat yang mempercayakan penyaluran kurban kepada Persulukan Serambi Babussalam.
Usai pelaksanaan Sholat Idul Adha, masyarakat mulai memadati kawasan persulukan. Menariknya, yang hadir bukan hanya umat Muslim, tetapi juga warga non-Muslim yang datang dengan penuh rasa kekeluargaan untuk menyaksikan penyembelihan hewan kurban dan menerima pembagian daging.
Suasana itu terasa begitu menyentuh karena Persulukan Serambi Babussalam berada di wilayah yang mayoritas penduduknya non-Muslim. Bahkan letak persulukan tersebut berdampingan dan diapit oleh dua gereja besar, yakni HKI dan HKBP. Namun perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi penghalang bagi masyarakat untuk saling menghormati dan menjaga persaudaraan.
Di lokasi itu tampak warga Muslim dan non-Muslim duduk bersama, berbincang hangat, saling membantu, dan ikut merasakan kebahagiaan Hari Raya Idul Adha tanpa sekat agama maupun suku.
Tidak ada rasa canggung. Tidak ada jarak. Yang terlihat hanyalah kebersamaan dan rasa saling menghargai sebagai sesama manusia.
Hal inilah yang membuat pembagian daging kurban di Persulukan Serambi Babussalam terasa begitu istimewa. Daging kurban dibagikan kepada seluruh masyarakat yang datang tanpa melihat latar belakang agama, etnis, ataupun status sosial.
“Siapa saja yang datang ke Persulukan ini akan kita kasih. Tidak melihat dia Muslim atau non-Muslim, Batak, Jawa, ataupun suku lainnya. Semua manusia adalah saudara dan semua berhak merasakan berkah Idul Adha,” ujar TGB Syach Ahmad Sabban Elrahmany Rajagukguk, MA.
Menurutnya, nilai terbesar dari Idul Adha bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, tetapi bagaimana manusia belajar ikhlas berbagi, menumbuhkan kasih sayang, dan memperkuat hubungan antarsesama.
“Kurban itu tentang kemanusiaan. Tentang bagaimana kita belajar mencintai sesama manusia tanpa melihat perbedaan. Agama mengajarkan kasih sayang, bukan perpecahan,” ungkapnya.
Tradisi toleransi di Persulukan Serambi Babussalam sendiri bukanlah hal baru. Dari tahun ke tahun, masyarakat lintas agama selalu hidup berdampingan dengan harmonis. Ketika umat Muslim merayakan Idul Adha, warga non-Muslim ikut membantu menjaga ketertiban dan hadir meramaikan suasana. Begitu juga saat umat lain merayakan hari besarnya, masyarakat Muslim di sekitar persulukan turut menghormati.
Pemandangan penuh toleransi itu membuat banyak masyarakat merasa tersentuh. Beberapa warga non-Muslim mengaku selalu merasa diterima dan dihargai ketika datang ke Persulukan Serambi Babussalam.
“Di sini kami tidak pernah merasa berbeda. Kami datang disambut dengan baik, duduk bersama, makan bersama, dan menerima daging kurban seperti keluarga sendiri,” ujar salah seorang warga non-Muslim.
Antusias masyarakat yang datang setiap tahun bahkan terus meningkat. Tidak sedikit warga yang rela datang sejak pagi demi merasakan suasana kebersamaan di Persulukan Serambi Babussalam.
Meski jumlah masyarakat yang hadir terkadang melebihi perkiraan panitia, pembagian daging kurban tetap dilakukan secara merata agar seluruh warga yang datang dapat merasakan kebahagiaan Idul Adha.
Selain menjadi pusat pembinaan spiritual dan pendidikan agama, Persulukan Serambi Babussalam juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan menjadi ruang pemersatu masyarakat lintas agama di Kabupaten Simalungun.
Di tengah berbagai isu intoleransi yang masih kerap muncul di sejumlah daerah, suasana Idul Adha di Persulukan Serambi Babussalam menjadi contoh nyata bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghormati, berbagi, dan memanusiakan sesama.
Momentum Idul Adha 1447 Hijriah di Persulukan Serambi Babussalam akhirnya tidak hanya menghadirkan berkah kurban, tetapi juga menghadirkan pesan kuat tentang indahnya hidup dalam keberagaman, menjaga persaudaraan, dan merawat kedamaian di tengah perbedaan.
Tim Redaksi















