SIMALUNGUN – Suasana duka menyelimuti Kelurahan Tanah Jawa, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Kamis (15/01/2026). Kabar wafatnya Ary Sanjaya, adik ipar Muhammad Jusuf Sirait, SE, Owner Saung Alam Raya, datang begitu mendadak dan mengguncang banyak pihak. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, tetapi juga duka kolektif bagi sahabat, komunitas, dan masyarakat yang mengenalnya sebagai pribadi hangat dan mudah bergaul.
Sejak pagi, rumah duka tak pernah sepi dari pelayat. Warga sekitar berdatangan silih berganti, menyampaikan belasungkawa dan doa. Kehadiran Ketua DPRD Simalungun Sugianto, SE, bersama Wakil Ketua DPRD Simalungun Jefra H. Manurung, SH, menjadi penanda kuat bahwa almarhum bukan sosok biasa. Ary Sanjaya dikenal luas dan dihormati, baik di lingkungan sosial maupun dalam berbagai komunitas yang ia ikuti, khususnya komunitas motor.
Kedua pimpinan DPRD tersebut hadir secara langsung menyampaikan ucapan duka cita yang mendalam kepada keluarga besar almarhum. Dengan nada penuh empati, mereka menguatkan istri almarhum serta keluarga yang ditinggalkan agar tetap tabah dan berserah diri menghadapi musibah yang berat ini.
“Kami turut berdukacita sedalam-dalamnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, kesabaran, dan keteguhan iman dalam menghadapi cobaan ini,” ujar salah satu pimpinan DPRD di hadapan keluarga.
Turut hadir pula Sekretaris Camat Tanah Jawa, serta sejumlah tokoh masyarakat, rekan-rekan komunitas motor, dan sahabat dekat almarhum. Kehadiran mereka seolah menjadi pelukan kolektif yang menguatkan keluarga, terutama bagi istri almarhum dan dua anaknya yang masih kecil, yang kini harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan sosok suami dan ayah tercinta.
Di tengah suasana duka, Muhammad Jusuf Sirait, SE, selaku kakak ipar almarhum, menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada seluruh pihak yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan memberikan dukungan moril.
“Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih atas doa, perhatian, dan kehadiran semua pihak. Ini menjadi kekuatan besar bagi kami di tengah duka yang mendalam,” ucapnya dengan suara bergetar.
Menurut penuturan salah seorang sahabat dekat Ary Sanjaya, kepergian almarhum benar-benar di luar dugaan. Pada pukul 01.30 WIB, sebelum kejadian, almarhum masih terlihat sehat dan sempat minum kopi bersama teman-temannya di sebuah warung. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan yang mengarah pada kondisi darurat.
Namun tak lama berselang, kondisi almarhum tiba-tiba memburuk. Diduga akibat masuk angin atau kambuhnya asam lambung, keluarga segera membawa Ary Sanjaya ke Rumah Sakit Balimbingan untuk mendapatkan pertolongan medis. Sayangnya, takdir berkata lain. Upaya medis yang dilakukan tidak mampu menyelamatkan nyawa almarhum.
Kepergian Ary Sanjaya meninggalkan duka mendalam bagi banyak orang. Sosoknya dikenang sebagai pribadi yang rendah hati, supel, dan mudah akrab dengan siapa saja. Ia bukan hanya bagian dari keluarga besar Saung Alam Raya, tetapi juga figur yang aktif dalam kehidupan sosial dan komunitas di Tanah Jawa dan sekitarnya.
Hari itu, air mata, doa, dan pelukan menyatu di rumah duka. Di balik kepergian yang tiba-tiba, tersisa kenangan tentang kebaikan dan keramahan seorang Ary Sanjaya—kenangan yang akan terus hidup di hati keluarga, sahabat, dan masyarakat yang pernah mengenalnya.
Selamat jalan, Ary Sanjaya. Doa terbaik mengiringimu, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan serta kekuatan.
Tim Red : Bang Aziz




















