SIMALUNGUN — PTPN IV Regional II mengambil langkah konkret dalam mendukung agenda ketahanan pangan nasional melalui pengembangan komoditas kedelai di kawasan perkebunan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Pilot Project Program Ketahanan Pangan Kedelai seluas 1.000 hektare, yang dimulai dari Unit Kebun Bahjambi, Kabupaten Simalungun.

Penanaman perdana program tersebut dilaksanakan Jumat (28/8/2026) di atas lahan seluas 40 hektare yang berada di Nagori Baja Dolok, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun.

Langkah ini menegaskan bahwa optimalisasi lahan perkebunan tidak semata-mata berorientasi pada aktivitas komoditas perkebunan, tetapi juga dapat diarahkan untuk mendukung kepentingan strategis nasional, khususnya dalam memperkuat ketersediaan pangan.

Bagi PTPN IV Regional II, pengembangan kedelai menjadi bagian dari upaya menghadirkan nilai tambah dari pemanfaatan lahan sekaligus memperkuat kontribusi perusahaan terhadap pembangunan nasional.

Program dengan target 1.000 hektare tersebut menjadi langkah awal untuk mengembangkan kawasan pertanian pangan secara lebih terukur. Lahan seluas 40 hektare di Unit Kebun Bahjambi menjadi salah satu lokasi awal yang diharapkan dapat menjadi bagian dari pengembangan program pada skala yang lebih luas.

Pengembangan kedelai di lahan PTPN IV Regional II memiliki arti strategis di tengah kebutuhan untuk memperkuat produksi pangan dalam negeri.

Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan yang memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat. Kebutuhannya tidak hanya berkaitan dengan konsumsi rumah tangga, tetapi juga menopang berbagai sektor usaha pengolahan pangan.

Karena itu, pengembangan kedelai melalui pemanfaatan lahan produktif menjadi salah satu bentuk konkret bagaimana aset perkebunan dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

PTPN IV Regional II berupaya memastikan lahan yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal dan produktif dengan tetap memperhatikan aspek teknis, pengelolaan serta keberlanjutan program.

Pilot project tersebut sekaligus menjadi ruang untuk melihat secara langsung bagaimana pengembangan kedelai dapat dilakukan pada kawasan perkebunan, mulai dari proses persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan hingga nantinya memasuki tahap panen.

Keberhasilan program tidak hanya akan diukur dari terlaksananya penanaman perdana, tetapi terutama dari kemampuan menjaga produktivitas tanaman hingga menghasilkan produksi yang optimal.

Penanaman perdana menjadi titik awal dari rangkaian proses panjang. Karena itu, keberlanjutan menjadi faktor penting dalam pelaksanaan program ketahanan pangan tersebut.

PTPN IV Regional II memiliki peran penting dalam memastikan program dapat berjalan secara terencana dan tidak berhenti pada seremoni. Pengelolaan lahan, pemeliharaan tanaman, pengawasan pertumbuhan serta evaluasi hasil menjadi bagian yang menentukan keberhasilan pengembangan kedelai.

Dengan demikian, pilot project 1.000 hektare tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai potensi pengembangan kedelai secara lebih luas di kawasan perkebunan.

Apabila produktivitas dapat dicapai secara optimal, pengembangan komoditas ini berpotensi memberikan kontribusi terhadap peningkatan produksi pangan sekaligus membuka ruang bagi pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Dalam pelaksanaannya, PTPN IV Regional II juga memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan unsur kewilayahan.

Dukungan tersebut terlihat dari kehadiran Danramil 10/Tanah Jawa Kodim 0207/Simalungun, Kapten Inf Suheri, bersama lima personel Babinsa dalam kegiatan penanaman perdana.

Kehadiran jajaran TNI menjadi bagian dari dukungan terhadap program ketahanan pangan sekaligus memperkuat koordinasi di tingkat wilayah.

Kapten Inf Suheri menegaskan kesiapan TNI melalui Babinsa untuk mendukung program pemerintah yang berkaitan dengan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.

“Kami siap mendukung dan mengawal program ketahanan pangan di wilayah, termasuk penanaman kedelai ini. Harapannya, program dapat berjalan optimal dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Suheri.

Bagi PTPN IV Regional II, sinergi tersebut menjadi modal penting dalam menjalankan program yang memiliki dimensi lebih luas daripada sekadar kegiatan produksi perusahaan.

Ketahanan pangan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah memiliki kebijakan dan dukungan program, perusahaan menyediakan serta mengelola sumber daya dan lahan, sementara aparat kewilayahan serta masyarakat memiliki peran dalam menciptakan ekosistem yang mendukung keberhasilan program.

Unit Kebun Bahjambi menjadi salah satu titik penting dalam pelaksanaan program tersebut. Dengan dimulainya penanaman 40 hektare, perusahaan mulai menerjemahkan target 1.000 hektare ke dalam kegiatan nyata di lapangan.

Langkah ini sekaligus memperlihatkan bagaimana kawasan perkebunan dapat berkontribusi dalam mendukung diversifikasi komoditas pangan.

Pengembangan kedelai di lahan perkebunan diharapkan mampu menghasilkan manfaat berlapis. Selain mendukung ketersediaan pangan, program tersebut berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi baru dan memperkuat hubungan perusahaan dengan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Namun, tantangan ke depan tetap tidak ringan. Keberhasilan budidaya kedelai sangat ditentukan oleh pengelolaan lahan, kualitas benih, teknik budidaya, pemeliharaan, kondisi cuaca, pengendalian organisme pengganggu tanaman hingga kepastian penyerapan hasil panen.

Karena itu, keberlanjutan pengelolaan menjadi kunci agar target 1.000 hektare bukan sekadar angka dalam program, melainkan mampu menghasilkan produktivitas yang memberikan dampak nyata.

Melalui program tersebut, PTPN IV Regional II memperlihatkan komitmennya untuk mengambil bagian dalam agenda strategis pemerintah di bidang pangan.

Optimalisasi aset dan lahan perusahaan untuk mendukung komoditas pangan strategis menjadi bentuk kontribusi nyata perusahaan dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Program tersebut juga menjadi momentum untuk membangun model kolaborasi antara perusahaan perkebunan, pemerintah daerah dan aparat kewilayahan dalam mengembangkan potensi lahan secara produktif.

Penanaman perdana di Kebun Bahjambi diharapkan menjadi awal dari proses yang lebih besar. Targetnya bukan hanya tanaman tumbuh, tetapi menghasilkan produksi; bukan hanya menghasilkan produksi, tetapi menciptakan manfaat; dan bukan hanya menciptakan manfaat sesaat, tetapi membangun program yang berkelanjutan.

Dengan semangat tersebut, PTPN IV Regional II terus mendorong agar pengembangan kedelai seluas 1.000 hektare dapat berjalan optimal dan memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat di wilayah Simalungun.

Kegiatan penanaman perdana turut dihadiri Ketua DPRD Simalungun Sugiarto, SE; Manajer BAJ PTPN IV Budi Darmawan; Manajer PKS Ari Gunawan; Askep RY.A BAJ Rahmad; perwakilan Kapolsek Tanah Jawa Brigadir Bayu; perwakilan Camat Tanah Jawa Rinaldi Samosir, serta unsur terkait lainnya.

Bagi PTPN IV Regional II, dari lahan perkebunan yang dikelola hari ini, diharapkan tumbuh kontribusi baru bagi negeri: memperkuat pangan, mengoptimalkan aset, membuka peluang ekonomi, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. 

(Bang Aziz)