ANEWS-Chanel  – Malam itu, Febriani (27) masih bisa merasakan hangatnya pelukan sang istri di tengah gelapnya lautan. Tapi takdir berkata lain. Pelukan itu terlepas, digantikan debur ombak yang memisahkan mereka selamanya.

Pasangan muda ini baru menikah pada 20 Juni 2025. Hanya dua belas hari mereka mengecap manisnya hidup berdua, sebelum perjalanan pulang ke Denpasar berubah menjadi tragedi. KMP Tunu Pratama Jaya yang mereka tumpangi karam di perairan Selat Bali pada Jumat (4/7/2025) malam.

Febriani mengenang detik-detik mencekam itu. Sekitar pukul 22.30 WITA, kapal mulai oleng ke kiri. Awalnya ia mengira hanyut gelombang biasa. Namun, tak sampai tiga menit, kemiringan kapal semakin tajam. Penumpang berhamburan. Suara tangisan, teriakan minta tolong, dan bunyi benda-benda terjatuh membaur dalam gelap.

Tanpa instruksi dari kru, Febriani meraih tangan Cahyani (30). Sang istri, yang tidak bisa berenang, memeluknya erat. “Aku takut, jangan lepaskan aku,” katanya lirih sebelum mereka berdua melompat ke laut.

Namun, gelombang besar akibat kapal yang terbalik memisahkan mereka. Dalam panik dan kedinginan, Febriani berusaha mencari. Namanya diteriakkan berulang-ulang ke laut yang pekat. Tak ada jawaban.

Semalaman ia terombang-ambing di atas perahu karet bersama 11 penumpang lain hingga akhirnya diselamatkan kapal nelayan. Namun sesampainya di daratan, kabar pahit menantinya. Di Posko ASDP Gilimanuk, jenazah Cahyani ditemukan. Saat kantong jenazah dibuka, Febriani tak kuasa menahan tangis.

“Saya baru menikah… tapi pelukan istriku terlepas di laut,” katanya terbata, air matanya tak berhenti mengalir.

Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya ini menewaskan belasan orang dan memicu sorotan atas prosedur keselamatan pelayaran di Selat Bali. Bagi Febriani, tragedi itu bukan sekadar angka korban. Itu adalah luka yang akan ia bawa seumur hidup.


Tim Redaksi