PT. Media Anews-Chanel _ Siapa yang tidak mengenal “Tuan Guru Batak” atau yang disingkat dengan “TGB” ini di Sumatera Utara (?). Yang pasti, masyarakat terkhusus kaum elit Sumut sudah familiar dengannya. 

TGB adalah tokoh “agama” Seorang Ulama dan sudah menasional yang relatif banyak dikunjungi para tokoh penting.

Baca Juga : TGB Sambut Kehadiran JR Saragih, Untuk Menyantuni 150 Anak Yatim Dipondok Parsulukan Serambi Babussalam.

Kamis (06/04/2023) Pada kesempatan ini Aziz diminta hadir Kepondok Parsulukan Serambi Babussalam, dan sesampainya Dipondok Parsulukan, Kita diarahkan langsung bertemu dengan Tuan Guru Batak Diruangannya.

Hampir 1 jam kita bercengkrama, tentunya banyak hal yang sudah beliau sampaikan. Saran dan masukan yang Beliau sampaikan tentunya menjadi referensi, agar kita menjadi jurnalis yang memiliki etika.

Sedikit kita akan mengulas kembali mengapa TGB kerap disambangi orang-orang penting, mulai dari tingkat tokoh Nasional bahkan Tokoh Mancanegara, Presiden RI, Menteri, Gubsu, Pangdam, Kapoldasu, Kakanwil Kemenagsu, tokoh lintas Agama, Ephorus, Pendeta dan elit-elit daerah sampai kelapisan paling bawah telah silaturrahim dan menyambangi Beliu.

“Tuan Guru Batak” (TGB) juga sangat akrap dengan kaum akedemis, aktifis dan praktisi di Medan. Selain memiliki ribuan jemaah, umumnya banyak kalangan sudah cukup mengenal TGB bahkan mereka sudah berkunjung ke majelisnya yakni pondok persulukan serambi babussalam di Kabupaten Simalungun dengan berbagai kepentingan.

Kenapa digelar “Tuan Guru Batak atau TGB” (?) Ini pertanyan paling penting untuk dijawab. Di-dalam buku “Dakwah Kerukunan dan Kebangsaan”, terbitan Prenada Nasional “kerjasama Group Gramedia Nasional” yang ditulis oleh lima (5) doktor muda yakni dosen UIN SU yakni Dr efibrata Madya MSi, Dr Mawardi Siregar MA, Dr Mukhtaruddin Dalimunthe MA, Dr Muhammad Husni Ritonga, Dr Salahuddin Harahap MA dan Dr Irwan Nasution, dengan lengkap dijelaskan pengungkapan gelar “Tuan Guru Batak.”

Istilah “Tuan Guru Batak atau Syekh Bayak” merupakan gelar yang sudah disematkan oleh orang, jemaah dan para tokoh, sejak dari Tuan Guru pertama Syekh Abdurrahman Rajagukguk Qs yang merupakan ayah kandung dari Tuan Guru Batak Syekh Dr H Ahmad Sabban elRahmaniy Rajagukguk MA.

Gelar “Tuan Guru Batak” tidak memilki hubungan struktur tarombo apapun dalam kebatakan. Ini bukan gelar dalam tarobo batak. Tuan Guru Batak merupakan gelar yang disematkan sejak dari ayahnya dikarenakan langkanya seorang pemimpin tarekat atau Ulama yang merupakan Batak Toba bermarga Rajagukguk, sehingga secara spontanitas orang menyebut “Syekh Batak atau Tuan Guru Batak.” Selain, letak georgrafis pondok persulukan di kawasan daerah Batak, tepatnya di Nagori Jawa Tongah, Kecamatan Hatonduhan, dan uniknya berdekatan dengan dua gereja besar yakni GKPI dan HKBP.

Baca Juga : Kapolsek Tanah Jawa Gelar Bukber Bersama TGB, Di Pondok Parsulukan Serambi Babussalam.

Adapun gelar Tuan Guru itu sendiri dalam tradisi Islam, sufi atau tarekat di Sumatera Utara secara khusus adalah panggilan terhadap Ulama khas pemimpin pondok persulukan [tarekat]. Istilah ini juga ditemukan di kawasan daerah Melayu, Riau, NTB dan beberapa daerah lainnya, bahkan sampai ke mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunai. Sebutan ‘Tuan Guru” juga bermakna Ulama atau panggilan kehormatan terhadap pemimpin agama yang sudah memiliki kualifikasi keilmuwan dan pengakuan ditengah masyarakat.

Gelar “Tuan Guru Batak” semakin menguat dan menjadi terkenal ketika banyak tokoh dan masyarakat melihat gerakan dakwah dan ketokohan Syekh Dr H Ahmad Sabban elRahamniy Rajagukguk ini secara aktif menyuarakan nilai-nilai kerukunan dan kebangsaan.

Dalam beberapa pertemuan silaturrahim dan pesan-pesan dakwah yang tergambar begitu kentara spirit tuan guru ini untuk tidak mendikotomikan antara nilai-nilai keluhuran adat dan nilai-nilai ajaran agama.

Ketokohan “Tuan Guru Batak (TGB)” bukan hadir tiba-tiba. Tentu ini melalui proses yang panjang sejak dari ayahnya. Meskipun perkembangan dakwahnya pesat dan cepat menasional, tapi kiprah dakwah TGB ini sudah berjalan secara intensif.

TGB memiliki banyak ribuan jemaah dan konsern dalam menyampaikan dakwah kerukunan dan kebangsaan. Yakni sebuah gerakan menajaga harmoni antar umat beragama. Bahkan TGB, kerap diundang ke berbagai daerah untuk menyampaikan dakwah kerukunan dan penguatan persaudaraan sejati.

Baca Juga : Sambut Bulan Suci Ramadhan, Kapolres Simalungun Bersilaturahim Kepondok Persulukan Serambi Babussalam.

Penyamatan Tuan Guru Batak (TGB) sebagai tokoh kerukunan datang dari lisan berbagai tokoh. Selain TGB konsern dalam membangun dakwah hamanity juga TGB kerap menerima silaturrahim tokoh lintas agama.

Bahkan peneguhan TGB sebagai tokoh kerukunan juga disampaikan langsung oleh Kementerian Agama Sumatera Utara dan juga sekaligus mencanangkan pondok persulukan TGB sebagai kampung moderasi beragama.

Dan sepertinya Tuan guru ini memiliki idealisme dan ‘nice dream’ yang sama dengan para tokoh-tokoh bangsa terdahulu dimana kerukunan dan keutahan bangsa merupakan pilar paling fundamental dan asset paling berharga yang tidak boleh terkoyak karena apapun sampai bumi ini berakhir.

TGB juga sangat menghormati petuah-petuah adat sebagai “poda” atau “uppasa” untuk membangun relasi adat dengan agama itu sendiri sekaligus memperkuat kerukunan. Adat dan agama, merupakan karunia Tuhan yang membuat kita mulia, terhormat dan bermartabat. Seperti “uppasa: yang mengatakan :

“Unang songon manggani-raja. Diparbuat buena ala tarulang bonana. Unang mago adat dibaen agama. Alana ido patandahon hita, pinipporni si raja Batak namarsahala.”

Terakhir, kami ingin menegaskan bahwa Tuan Guru Batak (TGB) adalah asset bangsa, dan terkhusus kebanggaan “bangso batak”. Tentu, kita semua harus bersyukur dan bangga ada Ulama dari “bangso batak” yang konser dan berjuang untuk merawat kerukunan, kemajemukan dan membangun persaudaraan kebangsaan kita.