SIMALUNGUN – Danau Toba telah lama menyandang status sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP). Berbagai program pemerintah pusat terus digelontorkan untuk menjadikan kawasan ini sebagai tujuan wisata kelas dunia yang mampu bersaing dengan destinasi internasional. Namun, di balik berbagai slogan dan promosi tersebut, realitas di lapangan justru memunculkan pertanyaan besar: mengapa Parapat sebagai gerbang utama Danau Toba semakin sepi pada hari-hari biasa?

Pemandangan lengangnya kawasan wisata kini menjadi hal yang lumrah. Hotel-hotel tidak lagi dipenuhi tamu pada hari kerja, rumah makan hanya ramai saat akhir pekan, pedagang suvenir menunggu pembeli berjam-jam, sementara pelaku UMKM dan pengemudi angkutan wisata mengaku pendapatan mereka terus menurun. Keramaian baru terasa ketika libur panjang, Natal, Tahun Baru, atau hari besar lainnya.

Fenomena ini bahkan pernah diakui langsung oleh Bupati Simalungun, H. Anton Achmad Saragih, saat melakukan kunjungan ke Parapat beberapa bulan lalu. Di hadapan masyarakat, Bupati menyampaikan bahwa kunjungan wisatawan ke Parapat memang belum stabil. Kota wisata yang dahulu hampir selalu ramai itu kini hanya hidup pada momen-momen tertentu.

Pernyataan tersebut semestinya menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan. Sebab, jika kepala daerah sendiri telah mengakui adanya penurunan aktivitas wisata, berarti persoalan yang dihadapi bukan lagi isu biasa, melainkan tantangan serius yang membutuhkan solusi nyata.

Beberapa bulan lalu, Menteri Pariwisata juga datang mengunjungi kawasan Danau Toba. Kehadiran menteri membawa harapan baru bahwa pemerintah pusat terus memberikan perhatian terhadap pengembangan destinasi super prioritas ini. Berbagai upaya peningkatan kualitas destinasi, promosi, serta penguatan ekosistem pariwisata kembali disampaikan.

Namun, harapan yang dibawa dari pusat seolah belum sepenuhnya terlihat dalam kondisi infrastruktur di daerah. Hingga hari ini, sejumlah ruas jalan alternatif menuju Parapat masih dalam kondisi rusak dan belum mendapatkan penanganan yang memadai.

Salah satunya adalah ruas jalan Simpang Tangga Batu–Simpang Kawat, Kecamatan Dolok Panribuan, yang selama ini menjadi jalur alternatif bagi masyarakat dari Bandar Pasir Mandoge, Kabupaten Asahan dan daerah sekitarnya menuju Parapat. Jalan tersebut dapat memangkas waktu tempuh sekaligus menjadi solusi ketika arus kendaraan di jalur utama mengalami kepadatan. Sayangnya, kerusakan di berbagai titik membuat pengendara enggan melintas.

Jalan Saribuasih Ketangga Batu Menuju Simpang Kawat Kecamatan Dolok Panribuan.

Kondisi yang lebih memprihatinkan terdapat pada ruas jalan Nagori Buntu Turunan–Bosar Nauli yang tembus ke Simpang Palang, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon. Jalan ini sesungguhnya memiliki nilai strategis karena langsung terhubung ke kawasan Parapat. Namun hingga kini kondisinya rusak berat. Saat hujan turun, jalan menjadi licin, berlubang, bahkan sulit dilalui kendaraan roda empat.

Jalan Buntu Turunan Ke Bosar Nauli Tembus Simpang Palang Kecamatan Simpangan Bolon.

Ironisnya, jalan-jalan tersebut bukan hanya melayani masyarakat desa, tetapi juga dapat berfungsi sebagai jalur alternatif untuk mengurai kemacetan yang hampir selalu terjadi di jalan nasional menuju Parapat setiap musim liburan. Jika akses ini diperbaiki, distribusi kendaraan akan lebih merata dan wisatawan memiliki lebih banyak pilihan rute menuju Danau Toba.

Pertanyaannya, mengapa infrastruktur dasar seperti ini belum menjadi prioritas?

Pemerintah pusat telah berkali-kali menunjukkan komitmennya membangun Danau Toba. Menteri datang, program diluncurkan, promosi digencarkan, dan anggaran terus dialokasikan. Namun jika di tingkat daerah persoalan jalan rusak tetap dibiarkan berlarut-larut, maka tujuan besar menjadikan Danau Toba sebagai destinasi wisata kelas dunia akan sulit tercapai.

Pariwisata tidak cukup dibangun melalui seremoni, festival, atau publikasi semata. Wisatawan pertama-tama membutuhkan akses yang aman, nyaman, dan mudah. Jalan yang rusak akan meninggalkan kesan buruk, meningkatkan biaya perjalanan, memperlambat waktu tempuh, bahkan dapat mengurangi minat wisatawan untuk kembali.

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Simalungun dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara segera menjadikan perbaikan jalan-jalan alternatif menuju Parapat sebagai prioritas pembangunan. Sebab, pembangunan pariwisata yang berhasil bukan hanya terlihat dari megahnya kawasan wisata, tetapi juga dari kemudahan masyarakat dan wisatawan untuk mencapainya.

Danau Toba adalah kebanggaan Indonesia, tetapi kebanggaan itu harus dibangun dengan kerja nyata. Jangan sampai setiap kunjungan pejabat pusat hanya meninggalkan dokumentasi dan seremoni, sementara masyarakat masih bergelut dengan jalan rusak yang menghambat pertumbuhan ekonomi dan pariwisata.

Kini saatnya seluruh pemangku kepentingan membuktikan bahwa status Destinasi Pariwisata Super Prioritas bukan sekadar label, melainkan komitmen yang benar-benar diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan wisatawan. (Tim)