SIMALUNGUN – Ancaman longsor membayangi ruas jalan penghubung Nagori Mekar Mulia menuju Nagori Maligas Tongah, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun. Kondisi yang semakin mengkhawatirkan terlihat tepat di kawasan perbatasan kedua nagori, di mana badan jalan diperkirakan sepanjang kurang lebih 50 meter terancam mengalami longsor akibat pengikisan tanah di sekitar saluran drainase.

Persoalan ini bukan lagi sekadar masalah saluran air yang mengalami pendangkalan atau luapan ketika hujan turun. Kondisi di lapangan menunjukkan adanya penggerusan tanah di sekitar drainase yang berpotensi mengancam kekuatan konstruksi badan jalan. Jika dibiarkan tanpa penanganan serius, bukan tidak mungkin kerusakan akan semakin meluas dan sebagian badan jalan mengalami amblas hingga longsor.

Saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut, air kerap meluap hingga ke badan jalan. Aliran air yang terus terjadi dikhawatirkan semakin mempercepat proses pengikisan tanah, terlebih kondisi saluran drainase terlihat semakin dalam dan tanah di sekitarnya mulai tergerus.

Lokasi yang menjadi perhatian berada tepat di perbatasan Nagori Mekar Mulia dengan Nagori Maligas Tongah. Dengan panjang area yang terancam diperkirakan mencapai 50 meter, kondisi ini membutuhkan perhatian serius dan penanganan segera dari pemerintah daerah.

Apabila tidak segera diantisipasi, ancaman tersebut berpotensi menimbulkan dampak lebih besar. Selain mengancam infrastruktur jalan milik Pemerintah Kabupaten Simalungun, kondisi ini juga dapat membahayakan masyarakat yang setiap hari menggunakan akses jalan tersebut untuk bekerja, mengangkut hasil pertanian, maupun menjalankan aktivitas lainnya.

Saat ditemui awak media, Pangulu Nagori Mekar Mulia, Sudar Luberki, menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Simalungun maupun pihak PTPN IV Balimbingan guna mencari solusi atas kondisi yang terjadi.

Koordinasi dengan pihak perkebunan dinilai penting karena lokasi saluran drainase tersebut berdampingan langsung dengan lahan Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan PTPN IV Balimbingan.

Pangulu berharap komunikasi antara pemerintah nagori, pemerintah kabupaten, dan pihak perkebunan dapat menghasilkan solusi yang tepat, sehingga persoalan aliran air, luapan drainase, serta pengikisan tanah tidak semakin berdampak terhadap badan jalan.

Langkah koordinasi ini menjadi penting mengingat penanganan persoalan tersebut kemungkinan membutuhkan keterlibatan lebih dari satu pihak. Diperlukan peninjauan langsung untuk mengetahui kondisi teknis saluran, arah aliran air, serta penyebab terjadinya penggerusan tanah di sekitar badan jalan.

Di tengah kondisi yang semakin mengkhawatirkan, perhatian Pemerintah Kabupaten Simalungun melalui dinas teknis terkait sangat diharapkan. Terlebih, ruas jalan tersebut merupakan fasilitas publik yang menjadi kebutuhan masyarakat.

Dinas terkait diharapkan tidak hanya melakukan peninjauan administratif, tetapi juga segera melakukan pemeriksaan teknis terhadap kondisi badan jalan sepanjang kurang lebih 50 meter yang terancam longsor.

Langkah antisipasi seperti pengamanan lokasi, evaluasi sistem drainase, pengendalian aliran air, hingga perkuatan tanah dan badan jalan perlu dipertimbangkan berdasarkan hasil pemeriksaan teknis di lapangan.

Sebab, ketika tanda-tanda pengikisan tanah sudah terlihat, pemerintah seharusnya menjadikan kondisi tersebut sebagai peringatan dini. Jangan sampai penanganan baru dilakukan setelah badan jalan benar-benar amblas, akses masyarakat terganggu, atau bahkan menimbulkan korban.

Masyarakat tentu tidak ingin menunggu hingga kerusakan semakin parah untuk mendapatkan perhatian pemerintah. Pencegahan sejak dini merupakan langkah yang jauh lebih bijak dibandingkan harus mengeluarkan anggaran lebih besar untuk memperbaiki kerusakan yang sudah meluas.

Kini, perhatian tertuju kepada Pemerintah Kabupaten Simalungun, dinas terkait, serta manajemen PTPN IV Balimbingan. Diharapkan seluruh pihak dapat duduk bersama, turun langsung melihat kondisi di lapangan, dan mencari jalan keluar sebelum ancaman longsor benar-benar menjadi kenyataan.

Infrastruktur publik bukan sekadar bangunan fisik, melainkan urat nadi aktivitas masyarakat. Jangan sampai sekitar 50 meter badan jalan di perbatasan Nagori Mekar Mulia dan Nagori Maligas Tongah menjadi korban lambannya penanganan, sementara tanda-tanda kerusakan sudah terlihat di depan mata.

Redaksi ANEWS-Chanel