SIMALUNGUN – Kesabaran masyarakat Nagori Buntu Turunan Kecamatan Hatonduhan, tampaknya telah mencapai titik puncak. Setelah lebih dari 20 tahun menghadapi kondisi jalan kabupaten yang rusak tanpa perbaikan yang memadai, masyarakat akhirnya memilih tidak lagi hanya menunggu.
Mereka bergerak, bergotong royong, dan membentuk sebuah aliansi sebagai simbol kepedulian sekaligus bentuk perjuangan agar akses utama masyarakat dapat kembali layak dilalui.
Ruas jalan milik Pemerintah Kabupaten Simalungun yang menghubungkan Huta III Parbeokan Nagori Buntu Turunan menuju Nagori Bosar Nauli kini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Aspal yang telah lama mengelupas, lubang besar di berbagai titik, badan jalan yang berbatu serta genangan air ketika hujan menjadi pemandangan yang setiap hari dihadapi masyarakat.
Bagi warga, kerusakan jalan tersebut bukan lagi sekadar persoalan infrastruktur. Jalan itu merupakan urat nadi kehidupan masyarakat yang menghubungkan aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga akses pemerintahan. Setiap hari para petani mengangkut hasil panen melewati jalan tersebut, anak-anak berangkat ke sekolah, masyarakat menuju puskesmas, dan kendaraan pengangkut hasil pertanian melintasinya. Namun seluruh aktivitas itu harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian karena kondisi jalan yang semakin hari semakin rusak.
Ironisnya, meski jalan tersebut merupakan kewenangan Pemerintah Kabupaten Simalungun, masyarakat menilai hingga kini belum terlihat adanya perhatian yang serius untuk melakukan pembangunan secara permanen.
Merespons kondisi itu, Pemerintah Nagori Buntu Turunan di bawah kepemimpinan Pangulu Roberton Nainggolan, SE, yang akrab disapa Bang RN, menggelar rapat terbuka bersama tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, para pengusaha, perangkat nagori, serta unsur Forkopimcam untuk mencari solusi nyata melalui gerakan swadaya masyarakat. Pada Kamis (30/07/2026)
Rapat tersebut dihadiri oleh Pangulu Nagori Buntu Turunan, perwakilan Kecamatan Hatonduhan, Kapospol Hatonduhan Aiptu YA Nainggolan, Babinsa Serka J. Hasibuan, Bhabinkamtibmas Aiptu RH Sianturi, Maujana Nagori Buntu Turunan, para pengusaha pemilik RAM sawit, serta berbagai elemen masyarakat yang sepakat bahwa kerusakan jalan tidak boleh lagi dibiarkan tanpa upaya penyelamatan.
Dalam sambutannya, Bang RN menyampaikan kekecewaan sekaligus keprihatinannya terhadap kondisi jalan yang menurutnya telah terlalu lama diabaikan.
“Sudah lebih dari dua puluh tahun masyarakat menunggu. Jalan ini bukan baru rusak, tetapi sudah puluhan tahun menjadi keluhan warga. Sampai hari ini belum ada perhatian yang benar-benar serius dari Pemerintah Kabupaten Simalungun untuk memperbaikinya secara permanen. Padahal jalan ini merupakan urat nadi perekonomian masyarakat. Hampir seluruh aktivitas warga bergantung pada akses jalan ini,” ujar Bang RN.
Menurutnya, masyarakat sebenarnya telah berkali-kali menyampaikan aspirasi kepada pemerintah maupun kepada wakil rakyat yang duduk di DPRD Kabupaten Simalungun. Namun hingga kini harapan tersebut belum membuahkan hasil sebagaimana yang diinginkan masyarakat.
“Kami sudah ikut memenangkan wakil rakyat yang ada di Dapil V dengan harapan mereka memperjuangkan kebutuhan masyarakat. Tetapi sampai sekarang jalan ini tetap seperti ini. Kami tidak ingin hanya menyalahkan siapa pun, namun masyarakat tentu berharap ada perhatian nyata karena jalan ini menyangkut kepentingan ribuan warga,” tegasnya.
Bang RN mengatakan, daripada terus menunggu tanpa kepastian, masyarakat memilih mengambil langkah nyata melalui semangat gotong royong.
“Daripada terus menunggu janji, lebih baik kita bergerak. Kita bentuk gerakan swadaya masyarakat. Tetapi gerakan ini bukan hanya sekali. Kita ingin gerakan ini berkelanjutan, terorganisir, transparan, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Ia menjelaskan, hasil musyawarah menyepakati adanya kontribusi rutin dari para pengusaha, khususnya pemilik RAM sawit, yang selama ini juga memanfaatkan ruas jalan tersebut.
“Kita sepakati adanya setoran dana dari para pengusaha yang mekanismenya akan dikoordinasikan oleh pengurus yang telah dibentuk. Seluruh dana akan dicatat secara terbuka, dikelola secara transparan, dan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Setelah dana terkumpul, masyarakat akan turun bergotong royong memperbaiki titik-titik jalan yang paling rusak. Memang belum bisa sekaligus, tetapi sedikit demi sedikit jalan ini akan semakin baik,” jelas Bang RN.
Sebagai tindak lanjut dari rapat tersebut, seluruh peserta secara bulat menyepakati pembentukan Aliansi Peduli Jalan Kabupaten Buntu Turunan (APJK-BT) sebagai wadah perjuangan masyarakat dalam mengoordinasikan seluruh kegiatan swadaya.
Aliansi ini dibentuk bukan hanya untuk mengumpulkan dana, tetapi juga menjadi pusat koordinasi antara masyarakat, pengusaha, tokoh adat, tokoh agama, para perantau, serta seluruh pihak yang ingin berkontribusi terhadap perbaikan jalan.
Melalui musyawarah mufakat, Tiru Manurung dipercaya menjadi Ketua APJK-BT.
Dalam sambutannya, Tiru Manurung menegaskan bahwa amanah tersebut merupakan tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan penuh integritas.
“Kami akan membangun komunikasi yang baik dengan seluruh pengusaha, khususnya pemilik RAM sawit, tokoh masyarakat, para perantau, dan seluruh warga agar bersama-sama mendukung gerakan ini. Kami ingin seluruh proses berjalan terbuka sehingga masyarakat mengetahui setiap dana yang masuk dan digunakan untuk apa. Kepercayaan masyarakat adalah modal utama gerakan ini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa APJK-BT akan bekerja secara profesional dengan mengedepankan prinsip keterbukaan dan kebersamaan.
“Aliansi ini bukan dibentuk untuk mengambil alih tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Simalungun. Kami hanya ingin menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian terhadap kampung halamannya. Kami tetap berharap pemerintah segera hadir dan melaksanakan pembangunan permanen terhadap jalan ini. Swadaya hanyalah solusi sementara agar masyarakat tidak terus menjadi korban akibat kerusakan jalan,” tegas Tiru Manurung.
Sementara itu, perwakilan Kecamatan Hatonduhan menyampaikan dukungan penuh terhadap langkah yang diinisiasi Pemerintah Nagori Buntu Turunan bersama masyarakat.
“Kami mengapresiasi semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat. Harus diakui bahwa hingga saat ini ruas jalan ini memang belum mendapatkan perhatian yang serius untuk diperbaiki secara permanen. Karena itu kami berharap gerakan swadaya ini dapat berjalan dengan baik, namun di sisi lain kami juga berharap Pemerintah Kabupaten Simalungun dapat segera memberikan perhatian dan merealisasikan pembangunan jalan yang sudah lama dinantikan masyarakat,” ujarnya.
Rapat kemudian menghasilkan sejumlah kesepakatan penting, di antaranya pembentukan APJK-BT, penggalangan dana swadaya secara berkelanjutan, pemberlakuan kontribusi dari para pengusaha melalui mekanisme yang disepakati bersama, pelaksanaan gotong royong secara berkala, serta penyampaian laporan keuangan secara terbuka kepada masyarakat sebagai bentuk akuntabilitas.
Di akhir rapat, seluruh peserta menyatakan komitmen untuk menjaga semangat persatuan dan gotong royong. Mereka berharap gerakan yang lahir dari kepedulian masyarakat ini menjadi awal perubahan bagi kondisi jalan Buntu Turunan sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur dasar merupakan kebutuhan mendesak yang tidak seharusnya terus tertunda.
Bagi masyarakat Buntu Turunan perjuangan memperbaiki jalan ini bukan sekadar menimbun lubang atau meratakan badan jalan. Lebih dari itu, ini adalah perjuangan menjaga denyut kehidupan masyarakat, mempertahankan roda perekonomian desa, dan memastikan generasi mendatang memiliki akses yang lebih baik.
Di tengah keterbatasan, masyarakat memilih bergandengan tangan. Kini, mereka berharap langkah gotong royong tersebut mendapat respons nyata dari Pemerintah Kabupaten Simalungun melalui pembangunan permanen yang telah dinantikan selama lebih dari dua puluh tahun. (Tim)











