JAWA TIMUR – Mejuah Juah…! Mejuah juah adalah kata yang biasa digunakan oleh orang Karo yang bisa bermakna sebagai sapaan dan ucapan syukur pada saat awal bertemu atau akhir dari suatu pertemuan yang dilaksanakan.
Ucapan mejuah juah itu juga kemarin diucapkan oleh panitia pelaksana dalam menyambut tamu dan undangan acara Mburo Ate Tedeh yang diadakan pada tanggal 20 Juli 2024 di Gedung Balai Sanitasi Surabaya mulai pukul 10.00 Wib sampai selesai.

Dalam rangka upaya melestarikan salah satu budaya yang ada di Nusantara yaitu Budaya Karo sekaligus untuk mempererat rasa persaudaraan orang Karo, Khususnya yang ada di Jawa Timur, maka Perkumpulan (Persadaan) Ginting ras Anak beruna rikut Anak beru Minteri Jawa Timur mengadakan acara temu kangen atau dalam bahasa Karonya disebut Mburo Ate Tedeh.
Dalam acara ini diisi dengan kegiatan yang berkaitan dengan Seni dan budaya karo seperti landek-landek (menari bersama), rende (bernyanyi) dan kegiatan lainnya yang berkaitan dengan sosial dan kiniersadaan (kebersamaan) penyampain Tali Asih bagi anggota Persadaan baik yang berduka dan sakit, doorprice dalam bentuk sembako dan uang tunai, juga di berikan pembagian beasiswa bagi keluarga yang memiliki anak yang masih sekolah.

Sekilas mengenal Suku Karo, sejarah dan etimologi Suku Karo (Wikipedia), Karo adalah salah satu etnis yang menyebar dan menetap di Tanah Karo. Etnis ini memiliki bahasa yang disebut cakap Karo dan memiliki salam khas yaitu mejuah-juah.
Adapun rumah tradisional masyarakat Karo yang disebut dengan nama Siwaluh Jabu yang berarti rumah untuk delapan keluarga, yaitu rumah yang terdiri dari delapan ruangan yang masing-masing ruangan dihuni oleh satu keluarga. Tiap keluarga yang menghuni rumah itu memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan pola kekerabatan masing-masing.
Etnis Karo memiliki sistem kemasyarakatan atau adat yang dikenal dengan nama Merga Silima, Tutur Siwaluh, Rakut Sitelu, perkade kaden 12 tambah 1.
Merga disebut untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan disebut Beru. Merga atau beru ini disandang di belakang nama seseorang.
Merga dalam masyarakat Karo terdiri dari lima kelompok utama (marga inti/pokok), yang disebut dengan Merga Silima. Kelima merga tersebut adalah: Ginting, Karo-karo, Perangin Angin, Sembiring dan Tarigan.
Kelima marga suku Karo tersebut mempunyai sub-marga masing-masing, dimana setiap orang Karo mempunyai salah satu dari marga tersebut.
Marga diperoleh secara turun temurun dari Ayah, marga ayah juga marga anak. Orang yang mempunyai merga ataupun beru yang sama, dianggap bersaudara dalam arti mempunyai nenek moyang yang sama. Jikalau laki-laki bermerga sama, maka mereka disebut ersenina. Demikian juga antara perempuan dengan perempuan yang mempunyai beru yang sama, maka mereka disebut juga ersenina. Namun antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bermerga sama, mereka disebut erturang, sehingga dilarang melakukan perkawinan.

Suku karo sudah menyebar ke penjuru Bumi termasuk di Jawa Timur.
Apresiasi kepada Pengurus dan semua Anggota juga peran serta sahabat Ginting ras Anak Beruna yaitu : PT. Berkat Bersama Teknik, Bpk. Rasman, PT. Nayaka Pratama, PT. Raka Makmur Bersama, PT. Aulia, Bak Perhatian Ginting dan PT. Amedea Devina Farma. Dimana Para Sahabat Ginting Ras Anak Beruna turut terpanggil ikut serta dalam bentuk donasi Dana sebagai wujud kepedulian melesatarikan Budaya Nusantara
Semoga kedepannya acara seperti ini dapat terlaksana sehingga kebudayaan kita tetap terjaga kelestariannya di Bumi Nusantara kita ini
Mejuah Juah Kita Kerina.
Editor Redaksi : A01


















