Medan — Di balik gemerlapnya kota metropolitan ini, tersimpan kisah kelam yang mencerminkan wajah suram kekerasan jalanan. Salah satu kasus terbaru yang mengguncang publik adalah penangkapan dua anggota geng motor RNR: ABS (17) dan Rivaldo Sihombing (20).
Keduanya tak hanya dikenal sebagai begal, tetapi juga sebagai pelaku pembunuhan brutal yang mencerminkan lingkaran kekerasan, narkoba, dan impunitas.
Mereka ditangkap pada 24 Juni 2025 di Jalan Orde Baru, Desa Mulyorejo. Namun, rekam jejak mereka dalam dunia kriminal bukanlah hal baru. Setahun sebelumnya, ABS dan Rivaldo terlibat dalam tawuran antar geng motor yang menewaskan Sion Ferdinand Manurung (18).
Dalam insiden itu, keduanya membacok korban hingga tewas sebelum melarikan diri ke Aceh untuk menghindari kejaran hukum.
Namun, pelarian ke Aceh tak berlangsung lama. Mereka kembali ke Medan, dan dengan entengnya kembali melanjutkan aksi kriminal. Pada 16 Juni 2025, keduanya melakukan aksi pembegalan terhadap Bambang dan anaknya di Jalan PDAM Tirtanadi.
Dalam peristiwa tersebut, korban dijatuhkan dari motor secara paksa. Meski sempat melawan dan membuang kunci motor agar tidak bisa dibawa kabur, para pelaku berhasil menemukannya kembali dan melarikan diri. Beruntung, korban tidak mengalami luka serius.
Penangkapan keduanya menguak fakta yang memperburuk keadaan: hasil tes menyatakan ABS dan Rivaldo positif mengonsumsi narkoba. Kombinasi antara kekerasan dan penyalahgunaan zat berbahaya memperlihatkan siklus destruktif yang mereka jalani—lingkaran setan yang sulit diputus tanpa intervensi serius dari berbagai pihak.
Kini, mereka dijerat dengan pasal berlapis, termasuk Pasal 170 Ayat (2) ke-3e subsider Pasal 358 ke-2e KUHP atas keterlibatan dalam aksi pembunuhan dan pembegalan. Dalam pengakuannya, Rivaldo menyebut bahwa awal mula tawuran yang menewaskan Sion dipicu oleh perselisihan di media sosial, yang kemudian berkembang menjadi aksi kekerasan mematikan.
Kasus ini lebih dari sekadar catatan kriminal. Ia mencerminkan kompleksitas persoalan sosial di Medan: menjamurnya geng motor, akses mudah terhadap narkoba, serta lemahnya sistem penegakan hukum dan rehabilitasi. Fakta bahwa keduanya bisa kembali ke Medan dan mengulangi kejahatan mereka menunjukkan kegagalan sistem dalam memberikan efek jera dan perlindungan bagi masyarakat.
Kisah ABS dan Rivaldo harus menjadi peringatan keras: sudah saatnya pendekatan terhadap kriminalitas remaja dan geng motor dilakukan secara lebih menyeluruh. Pencegahan dini, pendidikan, rehabilitasi, dan penegakan hukum yang tegas adalah langkah-langkah penting untuk menciptakan kota Medan yang lebih aman dan manusiawi.
Tim Redaksi




















