SIMALUNGUN – Bupati Simalungun, Dr. H. Anton Achmad Saragih, mendampingi Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia, Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menghadiri pembukaan Sinode Besar Gereja Pentakosta Indonesia (GPI) Tahun 2026 yang berlangsung di Gedung Rajawali, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (3/7/2026).
Kehadiran Menko AHY di Kabupaten Simalungun usai memimpin Rapat Kerja Nasional APEKSI di Medan menjadi momentum penting yang menegaskan eratnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga keagamaan dalam memperkuat pembangunan nasional yang berlandaskan nilai-nilai spiritual dan kebangsaan.
Sinode Besar GPI 2026 mengangkat tema “Mengambil Bagian Dalam Pertandingan Menguasai Diri untuk Mahkota Abadi” (1 Korintus 9:25) dengan subtema “Dalam Kompleksitas Global, Gereja Meningkatkan Pelayanan Spiritual dan Sosialnya.” Tema tersebut dinilai relevan dengan berbagai tantangan global yang dihadapi bangsa saat ini.
Dalam sambutannya, Menko AHY menegaskan bahwa pembangunan Indonesia tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh elemen bangsa, termasuk organisasi keagamaan, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat sipil.
«”Pemerintah pusat maupun daerah tidak bisa bekerja sendiri. Kita harus membangun sinergi agar tujuan besar meningkatkan kesejahteraan rakyat dapat terwujud,” ujar AHY.»
AHY juga memberikan apresiasi atas perjalanan panjang GPI yang telah melayani masyarakat sejak tahun 1936. Menurutnya, GPI bukan hanya menjadi wadah pembinaan rohani, tetapi juga memiliki peran strategis dalam membangun karakter bangsa serta memperkuat semangat persatuan.
«”Tidak perlu mempertentangkan agama dan nasionalisme. Pancasila dan seluruh agama di Indonesia memiliki tujuan yang sama, yakni menghadirkan kedamaian, persatuan, dan kesejahteraan. Perbedaan adalah kekayaan bangsa yang harus terus kita rawat bersama,” tegasnya.»
Lebih lanjut, AHY menilai tema Sinode Besar GPI sangat relevan di tengah dinamika dunia yang diwarnai konflik geopolitik, krisis iklim, hingga pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
«”Di tengah derasnya perubahan zaman, gereja harus menjadi kompas moral. Kita membutuhkan karakter yang kuat, integritas yang kokoh, serta kemampuan memanfaatkan teknologi sebagai instrumen pembangunan, bukan sebaliknya menjadi pihak yang tertinggal oleh perubahan,” ungkapnya.»
Sementara itu, Bupati Simalungun Dr. H. Anton Achmad Saragih menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Sinode Besar GPI di Kabupaten Simalungun. Menurutnya, forum tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkuat nilai-nilai keimanan sekaligus mempererat kemitraan antara gereja dan pemerintah dalam membangun masyarakat yang harmonis.
Bupati menegaskan bahwa penguasaan diri merupakan fondasi penting dalam menjaga persatuan dan ketenteraman di tengah kehidupan bermasyarakat yang semakin kompleks.
«”Penguasaan diri adalah benteng utama melawan radikalisme, perpecahan, berita bohong, penyalahgunaan narkoba, dan berbagai penyakit sosial lainnya. Jika setiap orang mampu menguasai dirinya, maka kedamaian dan kerukunan di Tanoh Habonaron Do Bona akan tetap terjaga,” ujar Bupati.»
Bupati juga berharap GPI terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam membina generasi muda agar terhindar dari penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, serta berbagai pengaruh negatif yang dapat merusak masa depan bangsa. Selain itu, ia berharap Sinode Besar GPI menghasilkan kepengurusan yang amanah dan program-program yang memberi manfaat nyata bagi jemaat maupun masyarakat luas.
«”Semoga forum ini melahirkan keputusan-keputusan yang bijaksana demi kesejahteraan jemaat dan seluruh masyarakat. Selamat bersinode, selamat bertanding dalam iman untuk meraih mahkota abadi. Horas ma hita ganupan. Tuhan memberkati kita semua. Syalom,” tutup Bupati.»
Kehadiran Menko AHY bersama Bupati Simalungun dalam pembukaan Sinode Besar GPI 2026 menjadi simbol kuat kolaborasi pemerintah dan lembaga keagamaan dalam membangun Indonesia. Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi yang berkarakter, berintegritas, serta mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia yang religius, harmonis, maju, dan bermartabat di Tanoh Habonaron Do Bona. (Tim)













