MEDAN – Amarah warga Lingkungan IX, Jalan Perwira II, Kelurahan Pulo Brayan Bengkel, Kecamatan Medan Timur, memuncak. Kamis (30/4), puluhan warga mendatangi Kantor Wali Kota Medan, menyuarakan satu tuntutan keras: batalkan pengangkatan M. Salim sebagai Kepling IX.

Teriakan penolakan tak setengah-setengah. “Siapapun kami terima, asal jangan M. Salim!” seru Salbiah di tengah aksi.

Warga mengaku sudah berada di lokasi sejak pagi, namun baru diterima menjelang siang oleh staf Bagian Tata Pemerintahan. Hasilnya? Janji untuk menyampaikan aspirasi ke atasan—tanpa kepastian.

Sebagai bentuk perlawanan administratif, warga langsung menandatangani petisi penolakan. Tapi di balik itu, muncul tudingan serius.
“Kami diintimidasi. Dibilang tak akan dapat bantuan kalau menolak,” ungkap Salbiah.

Penolakan ini bukan tiba-tiba. Warga membuka kembali rekam jejak lama M. Salim saat menjabat:

  • Urusan surat disebut tak gratis
  • Bantuan sosial diduga tak sampai ke warga
  • Keluhan masyarakat diabaikan
  • Kepemimpinan dinilai tidak amanah

Sebaliknya, nama Endang Priska justru dielu-elukan warga. “Dia didukung ratusan suara, pelayanannya jelas dan tidak mempersulit,” ujar Rini.

Gelombang penolakan sebelumnya juga mengguncang Kantor Camat Medan Timur. Emak-emak turun langsung, membawa poster penolakan. Situasi sempat memanas setelah camat tak kunjung menemui massa selama berjam-jam.

Ketika dialog akhirnya terjadi, jawaban camat justru memantik kekecewaan. Pengangkatan tetap dinilai sah sesuai aturan. Namun bagi warga, itu belum cukup.

“Ini terasa dipaksakan,” teriak massa.

Di tengah kekecewaan, muncul dugaan serius: pengangkatan Kepling disebut-sebut sarat kepentingan. Warga menilai keputusan tidak objektif, bahkan mencurigai adanya permainan oknum.

Kini tekanan mengarah ke Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas. Warga mendesak agar keputusan ditinjau ulang dan pejabat terkait dievaluasi.

Jika tidak? Aksi lanjutan siap digelar.
“Ini baru awal. Kami akan datang lagi dengan massa lebih besar,” tegas seorang ibu dengan nada tinggi.

Satu pesan tak terbantahkan:
Warga tidak diam. Mereka menolak, melawan, dan menuntut didengar.

(Tim)