SIMALUNGUN – Suasana penuh keakraban dan harapan terasa dalam kegiatan reses Anggota DPRD Kabupaten Simalungun, Jefri Saragi, yang digelar di Kampung Gereja, Nagori Tangga Batu, Kecamatan Hatonduhan, Selasa (28/04/2025).
Kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin legislatif, melainkan menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk menyampaikan suara hati mereka—tentang kebutuhan, keluhan, hingga harapan akan masa depan yang lebih baik.
Sejak awal kegiatan, warga tampak antusias menghadiri reses tersebut. Berbagai kalangan hadir, mulai dari tokoh masyarakat, kaum ibu, hingga generasi muda. Turut hadir dalam kegiatan itu Pangulu Tangga Batu Hendro Silalahi, perwakilan Camat Hatonduhan melalui Kasi Trantib Edy Subagio, Bhabinkamtibmas Aiptu R.H. Sianturi, Kepala Puskesmas Buntu Turunan, perwakilan PTPN IV, serta sejumlah perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Dalam sambutannya, Jefri Saragi yang merupakan anggota DPRD dari Fraksi PDI Perjuangan dan bertugas di Komisi IV menyampaikan bahwa dirinya hadir untuk mendengar langsung apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Ia menegaskan bahwa sektor kesehatan dan pendidikan tetap menjadi prioritas utama dalam tugasnya, namun dirinya juga membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menyampaikan berbagai persoalan lainnya.
“Reses ini bukan hanya formalitas, tetapi menjadi jembatan bagi kami untuk benar-benar memahami apa yang dirasakan masyarakat. Apa yang bapak dan ibu sampaikan hari ini akan kami perjuangkan,” ungkap Jefri dengan penuh empati.
Namun di balik berbagai isu yang disampaikan, satu persoalan mencuat dan menjadi perhatian utama: kondisi jalan penghubung dari Dusun I Tangga Batu menuju Dusun VII Kampung Gereja yang telah rusak parah selama puluhan tahun. Jalan tersebut merupakan akses vital bagi aktivitas masyarakat, mulai dari anak-anak yang bersekolah, petani yang mengangkut hasil kebun, hingga mobilitas sehari-hari warga.
Warga dengan penuh harap menyampaikan keluhan mereka. Di musim hujan, jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang sulit dilalui, sementara di musim kemarau dipenuhi debu yang mengganggu kesehatan. Kondisi ini dinilai tidak hanya menghambat aktivitas ekonomi, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup masyarakat.
Meski jalan tersebut berstatus milik Pemerintah Kabupaten Simalungun, warga berharap adanya sinergi dengan pihak perkebunan yang dilalui jalan tersebut, agar turut memberikan perhatian dan kontribusi dalam upaya perbaikan.
Mendengar langsung keluhan tersebut, Jefri Saragi tampak serius dan berkomitmen untuk memperjuangkannya. Ia menyatakan akan segera melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah serta pihak terkait, termasuk perusahaan perkebunan, guna mencari solusi konkret.
“Kita tidak bisa menutup mata. Ini menyangkut kebutuhan dasar masyarakat. Saya akan berupaya semaksimal mungkin agar persoalan ini mendapat perhatian dan bisa direalisasikan perbaikannya,” tegasnya.
Selain isu infrastruktur, warga juga menyampaikan berbagai aspirasi terkait pelayanan kesehatan dan pendidikan. Mulai dari kebutuhan peningkatan fasilitas kesehatan, ketersediaan tenaga medis, hingga perhatian terhadap sarana pendidikan yang layak bagi anak-anak di wilayah tersebut. Semua aspirasi itu disambut dengan respon positif dan komitmen untuk ditindaklanjuti.
Menambah nilai kemanusiaan dalam kegiatan ini, Puskesmas Buntu Turunan turut menghadirkan layanan pengobatan gratis bagi masyarakat. Warga, khususnya lansia dan ibu-ibu, tampak memanfaatkan layanan tersebut dengan penuh antusias. Pemeriksaan kesehatan, pemberian obat, hingga konsultasi medis dilakukan langsung di lokasi, menjadi bukti nyata kehadiran negara di tengah masyarakat.
Kegiatan reses ini tidak hanya meninggalkan catatan aspirasi, tetapi juga menumbuhkan harapan. Harapan bahwa suara masyarakat didengar, diperhatikan, dan diperjuangkan. Harapan bahwa jalan yang rusak akan kembali layak dilalui, pelayanan kesehatan semakin baik, dan pendidikan anak-anak semakin terjamin.
Di akhir kegiatan, Jefri Saragi kembali menegaskan komitmennya untuk menjadi penyambung lidah rakyat. Ia berharap sinergi antara pemerintah, legislatif, dan seluruh pemangku kepentingan dapat terus terjalin demi mewujudkan pembangunan yang merata dan berkeadilan di Kabupaten Simalungun.
“Perjuangan ini tidak bisa sendiri. Kita butuh kebersamaan dan kepedulian semua pihak. Saya percaya, dengan niat baik dan kerja sama, apa yang menjadi harapan masyarakat bisa kita wujudkan bersama,” tutupnya.
Reses ini pun menjadi bukti bahwa di balik setiap keluhan, selalu ada harapan yang ingin diperjuangkan—dan di Kampung Gereja, harapan itu kini mulai menemukan jalannya.
(Tim)










