Deli Serdang— Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sumatera Utara (Sumut) yang akan datang telah memicu perdebatan hangat di kalangan kader. Sorotan tajam tertuju pada perlunya regenerasi kepemimpinan untuk mengembalikan marwah dan peran Golkar sebagai pilar pembangunan di Sumut. Gandhy Panigoro, Ketua DPC Ormas MKGR Kabupaten Deli Serdang, menjadi salah satu suara yang lantang menyerukan perubahan.

Gandhy menekankan pentingnya kepemimpinan yang seimbang, loyal, dan dewasa secara politik. Baginya, Musda bukan sekadar agenda rutin, melainkan momentum krusial untuk memperkuat posisi Golkar dalam mendukung program pembangunan Gubernur Sumatera Utara, M. Bobby Afif Nasution. Ia menegaskan perlunya Golkar Sumut menjadi bagian aktif dari solusi, bukan sekadar pengamat pasif, apalagi oposisi.

“Pemerintahan Gubernur Bobby merepresentasikan semangat perubahan dan kemajuan Sumut. Golkar harus menjadi kekuatan utama yang mendukung kebijakan pembangunan, bukan hanya mengamati dari kejauhan,” tegas Gandhy.

Ia menginginkan pemimpin Golkar Sumut yang memahami peta politik lokal dan prioritas pembangunan Provinsi Sumut. Kepemimpinan yang mampu menjembatani kepentingan lokal dengan kebijakan nasional, serta menjunjung tinggi prinsip PDLT (Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, Tidak Tercela) menjadi tuntutannya.

“Pemimpin Golkar Sumut harus kuat secara struktur dan matang secara politik. Loyalitas pada partai dan perjuangan bersama pemerintahan yang sah, bukan pada afiliasi personal, sangat penting,” tegasnya lagi.

Gandhy secara khusus menyebut Hendriyanto Sitorus, Ketua DPD Golkar Labuhanbatu Utara dan Bupati aktif, sebagai figur ideal. Dukungan terbuka DPD Golkar Labura terhadap Hendriyanto dianggapnya sebagai sinyal kuat kesadaran kader akar rumput.

“Ini bukan soal siapa yang didukung, tetapi siapa yang mampu menjaga marwah partai dan membuatnya relevan dengan semangat perubahan Gubernur Bobby,” tambahnya.

Ketidakhadiran MKGR—organisasi yang melahirkan Golkar—dalam struktur kepengurusan DPD Golkar Sumut menjadi sorotan tajam Gandhy. Ia menyebutnya sebagai preseden buruk yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Ini pertama kalinya MKGR tidak diakomodir. Hal ini menunjukkan kepemimpinan sebelumnya telah menjauh dari semangat kolektif dan kultur kekaryaan yang menjadi fondasi Golkar,” tegasnya.

Gandhy berharap Musda Golkar Sumut akan menjadi ajang kontestasi yang sehat dan bermartabat. Ia ingin Golkar kembali menjadi partai kader, partai rakyat, dan penggerak pembangunan yang nyata, bersinergi dan mendukung penuh Gubernur Sumut dalam mewujudkan perubahan.

(Rizky Zulianda)

Editor Redaksi : A01