SIMALUNGUN — Di tengah derasnya arus perbedaan yang kerap memantik gesekan sosial, Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah di Kabupaten Simalungun hadir sebagai oase spiritual sekaligus ruang refleksi kebangsaan. Bertempat di Pondok Persulukan Serambi Babussalam, Nagori Jawa Tongah, Kecamatan Hatonduhan, kegiatan religius ini tidak hanya menjadi peringatan perjalanan agung Rasulullah SAW, tetapi juga momentum meneguhkan kembali nilai persaudaraan dan harmoni sosial, Minggu (1/2/2026).
Kegiatan tersebut dirangkai dengan groundbreaking pembangunan Rumah Tahfiz Qur’an, sebuah ikhtiar konkret dalam mencetak generasi Qur’ani yang berakhlak dan berwawasan kebangsaan. Pembangunan rumah tahfiz ini didanai oleh Sugiat Santoso, Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, sebagai wujud nyata sinergi antara ulama, umara, dan wakil rakyat dalam memperkuat fondasi moral umat.
Dalam suasana khidmat yang sarat kekeluargaan, Tuan Guru Batak (TGB) Syekh Dr Ahmad Sabban Elrahmany Rajagukguk MA menyampaikan tausyiah kebangsaan yang menggugah kesadaran jamaah. Ulama yang dikenal luas sebagai Tuan Guru Batak itu menegaskan bahwa kerukunan di tengah perbedaan bukan sekadar jargon normatif, melainkan kerja sadar yang menuntut konsistensi, kedewasaan, dan tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa.
Acara ini dihadiri oleh jajaran tokoh penting lintas sektor dan lintas daerah, antara lain Sugiat Santoso (DPR RI), Boanuli Rajagukguk, SH (Wakil Ketua DPRD Kabupaten Simalungun), Bupati dan Wakil Bupati Simalungun, Wali Kota Pematangsiantar beserta Wakil, Kapolres Simalungun, Dandim 0207/Simalungun, Ketua MUI Kabupaten Simalungun, Kapolsek Tanah Jawa, Danramil 10 Tanah Jawa, Camat Hatonduhan, Camat Tanah Jawa, jajaran OPD, pejabat dari luar daerah, tokoh masyarakat, para khalifah, ustaz, serta ratusan jamaah persulukan.
Dalam tausyiahnya, TGB menekankan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang dianugerahi perbedaan suku, agama, budaya, pandangan politik, hingga cara hidup. Kondisi tersebut, menurutnya, bukan kelemahan, melainkan potensi besar jika dikelola dengan kebijaksanaan dan akhlak.
“Kerukunan adalah fondasi utama bagi stabilitas sosial dan persatuan bangsa. Tanpa kerukunan, pembangunan akan kehilangan arah dan persaudaraan akan rapuh,” tegas TGB di hadapan para hadirin.
Ia menambahkan, inti dari kerukunan adalah kesediaan untuk berbeda tanpa saling meniadakan. Perbedaan merupakan sunnatullah dan keniscayaan sosial yang tidak mungkin dihapus, namun dapat dikelola melalui sikap saling menghargai, keterbukaan, dan semangat kebersamaan.
TGB menekankan bahwa langkah awal merawat harmoni adalah mengakui perbedaan sebagai fakta kehidupan. Kerukunan, katanya, tidak lahir dari penyeragaman, melainkan dari penerimaan yang tulus bahwa setiap individu dan kelompok memiliki identitas, keyakinan, dan pandangan hidup yang sah untuk dihormati.
“Di atas semua identitas itu, kita harus meletakkan nilai kemanusiaan sebagai titik temu. Jika kemanusiaan dikedepankan, empati dan welas asih akan tumbuh, dan itulah benteng terkuat untuk meredam prasangka serta ego sektoral,” ujarnya.
Lebih jauh, TGB menegaskan pentingnya dialog yang sehat dan setara sebagai sarana merawat kerukunan. Dialog yang sejati, menurutnya, adalah dialog yang membuka ruang mendengar, bukan panggung untuk saling menghakimi.
“Dialog bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi bagaimana kita tetap bersaudara meski berbeda,” tuturnya.
Ia juga menyoroti sikap saling menghormati sebagai pilar utama harmoni sosial. Menghormati perbedaan bukan berarti harus sepakat, melainkan menjaga batas agar perbedaan tidak berubah menjadi luka—baik melalui lisan, tindakan, maupun di ruang digital yang kerap memantik konflik tanpa kendali.
Dalam konteks kebangsaan, TGB mengangkat kembali nilai gotong royong sebagai warisan luhur bangsa Indonesia. Menurutnya, kerja bersama dalam menghadapi persoalan nyata—sosial, ekonomi, maupun lingkungan—akan mencairkan sekat-sekat identitas.
“Ketika tujuan bersama lebih besar, perbedaan akan mengecil dengan sendirinya,” ungkapnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kerukunan tidak akan tumbuh di atas ketimpangan. Keadilan dan sikap inklusif menjadi prasyarat mutlak bagi lahirnya kepercayaan antar kelompok. Diskriminasi dan ketidakadilan, katanya, hanya akan melahirkan kecurigaan dan konflik laten.
Sebagai investasi jangka panjang, TGB menegaskan pentingnya pendidikan toleransi sejak dini. Nilai moderasi, kebinekaan, dan saling menghargai harus ditanamkan mulai dari keluarga, sekolah, hingga ruang publik agar kerukunan tumbuh sebagai karakter bangsa, bukan sekadar slogan seremonial.
Menutup tausyiahnya, TGB Syekh Dr Ahmad Sabban Rajagukguk menegaskan bahwa merawat kerukunan di tengah perbedaan adalah seni hidup bersama—menjaga keyakinan tanpa merendahkan keyakinan orang lain, serta memperjuangkan identitas tanpa meniadakan nilai kemanusiaan.
“Kerukunan bukan sesuatu yang selesai dalam satu momentum. Ia adalah proses panjang yang harus dirawat setiap hari, oleh siapa pun, di mana pun,” pungkasnya.
Tim Red : Bang Aziz














