Simalungun – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-III tingkat Nagori Maligas Bayu, Kecamatan Huta Bayu Raja, Kabupaten Simalungun, resmi digelar. Nagori Huta Silo Kataran dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan kegiatan keagamaan tersebut.

Kegiatan MTQ tahun ini mengusung tema “Menciptakan Generasi Qur’ani serta Cinta Akan Seni Islam dan Jadikanlah Al-Qur’an sebagai Pegangan Hidup.” Tema tersebut menjadi pesan penting bahwa MTQ tidak sekadar menjadi ajang perlombaan untuk mencari peserta terbaik, tetapi juga merupakan bagian dari upaya membentuk generasi yang mencintai Al-Qur’an serta menjadikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai pedoman kehidupan.

Pembukaan MTQ berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan. Kegiatan tersebut dihadiri Camat Huta Bayu Raja, Risdoni Sinaga, S.H., Pangulu Nagori Maligas Bayu, Kasno, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta sejumlah pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ).

Camat Huta Bayu Raja, Risdoni Sinaga, S.H., secara langsung membuka pelaksanaan MTQ ke-III tersebut. Pembukaan ditandai dengan pemukulan bedug, sebagai simbol dimulainya rangkaian kegiatan MTQ sekaligus menjadi tanda semangat bersama dalam menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat.

Kehadiran Camat Huta Bayu Raja bersama para tokoh masyarakat, tokoh agama dan pengurus LPTQ menunjukkan adanya dukungan bersama terhadap pembinaan kehidupan keagamaan, khususnya dalam menciptakan generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap Al-Qur’an.

MTQ ini diharapkan tidak hanya menjadi panggung bagi para peserta untuk menunjukkan kemampuan membaca dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, tetapi juga menjadi ruang pembinaan mental, spiritual, dan karakter. Sebab, kemampuan membaca Al-Qur’an akan memiliki makna yang lebih besar apabila diiringi dengan pemahaman serta pengamalan terhadap ajaran yang terkandung di dalamnya.

Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dipahami dan dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan. Nilai-nilai tentang kejujuran, kesabaran, kedisiplinan, kasih sayang, persaudaraan, saling menghormati, serta kepedulian terhadap sesama merupakan bagian penting yang diharapkan tumbuh dalam diri generasi muda.

Di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus informasi, pembinaan moral dan spiritual generasi muda menjadi semakin penting. Anak-anak dan remaja perlu memiliki fondasi agama yang kuat agar mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan tanpa kehilangan arah dan jati diri.

Melalui MTQ, para peserta tidak hanya didorong untuk berprestasi, tetapi juga diberikan kesempatan untuk membangun kepercayaan diri, kedisiplinan, keberanian tampil di hadapan masyarakat, serta semangat untuk terus belajar dan memperdalam ilmu agama.

Pangulu Nagori Maligas Bayu, Kasno, bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Dukungan tersebut diharapkan menjadi energi positif bagi keberlangsungan pembinaan keagamaan di tingkat nagori.

Keberadaan pengurus LPTQ juga menjadi bagian penting dalam upaya mengembangkan potensi generasi muda di bidang Al-Qur’an dan seni Islam. Pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan diharapkan dapat melahirkan qari dan qariah yang tidak hanya memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga memiliki akhlak dan kepribadian yang baik.

Pelaksanaan MTQ ke-III ini sekaligus menjadi momentum mempererat silaturahmi masyarakat Nagori Maligas Bayu dengan Nagori Huta Silo Kataran sebagai tuan rumah. Kebersamaan yang terbangun melalui kegiatan keagamaan diharapkan dapat semakin memperkuat persatuan dan kerukunan masyarakat.

Membangun generasi Qur’ani tentunya bukan hanya tugas lembaga keagamaan. Peran orang tua, pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, para pendidik, dan seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan. Pembinaan yang dilakukan secara bersama-sama akan menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi muda yang beriman, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial.

MTQ juga diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial maupun perlombaan semata. Semangat membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an hendaknya terus dibawa ke lingkungan keluarga dan kehidupan bermasyarakat setelah seluruh rangkaian kegiatan berakhir.

Dengan dibukanya MTQ ke-III melalui pemukulan bedug oleh Camat Huta Bayu Raja, Risdoni Sinaga, S.H., kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk semakin menghidupkan syiar Islam sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam membina generasi muda.

Pada akhirnya, keberhasilan MTQ bukan hanya diukur dari siapa yang menjadi juara, tetapi dari seberapa jauh kegiatan tersebut mampu menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an dan melahirkan generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup.

Dari Nagori Huta Silo Kataran sebagai tuan rumah, semangat tersebut diharapkan terus menyala: membaca Al-Qur’an, memahami maknanya, mengamalkan ajarannya, dan menjadikannya pedoman dalam membangun kehidupan yang rukun, damai, dan berakhlak. (Rafik)