Kisah Azwar. Penyanyi Asal Kisaran Meregang Nyawa Di Kamboja.
Kisaran, Asahan – Di sebuah sudut Dusun II, Kelurahan Bunut, kenangan tentang Azwar (32) masih menggantung di udara. Senyum ramah dan suara merdunya yang dulu kerap memeriahkan pesta-pesta di Kisaran kini hanya tinggal bayang-bayang.
Kisah kepergian Azwar, seorang pekerja migran Indonesia yang meninggal dunia di Kamboja, bukan sekadar kabar duka—ia adalah cerminan pahit dari mimpi yang direnggut, eksploitasi yang tersembunyi, dan sistem perlindungan yang belum sepenuhnya berpihak.
Azwar dikenal sebagai penyanyi lokal yang giat dan mudah bergaul. Ia memiliki mimpi sederhana: menghidupi keluarganya dengan cara yang halal dan bermartabat. Abdul Aziz, sang adik, mengenang Azwar sebagai sosok yang jarang berada di rumah karena kesibukannya bernyanyi dari satu tempat ke tempat lain.
“Dia sudah biasa kerja sampai berhari-hari di luar kota. Kami percaya saja,” ucap Aziz, suaranya bergetar.
Kepercayaan itu, tanpa disadari, menjadi celah bagi agen penyalur kerja ilegal bernama Hasan. Mengiming-imingi pekerjaan sebagai penyanyi di Malaysia, sang agen malah mengirim Azwar ke Kamboja, di mana ia dipaksa bekerja di sebuah perusahaan scam—tempat ribuan pekerja lainnya juga menjadi korban penipuan dan eksploitasi.
Harapan Azwar untuk mencari penghidupan yang lebih baik justru berujung tragis. Ia ditemukan tewas setelah terjatuh dari lantai tiga sebuah gedung. Keluarga yakin bahwa kematiannya bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan konsekuensi dari tekanan kerja dan sistem yang abai terhadap keselamatan serta hak-hak pekerja migran.
Kini, keluarga Azwar sedang berjuang keras untuk memulangkan jenazahnya. Biaya pemulangan yang mencapai Rp160 juta menjadi beban berat di tengah duka mendalam yang mereka alami. Harapan terakhir mereka menggantung pada uluran tangan pemerintah dan bantuan dari KBRI di Kamboja, agar jenazah Azwar bisa segera kembali ke pangkuan keluarga.
Kisah pilu ini menjadi pengingat bagi kita semua: mimpi meraih hidup yang lebih baik seharusnya tidak berakhir dalam peti jenazah. Ini adalah seruan nyata akan pentingnya kehati-hatian, validasi informasi, dan transparansi dalam proses penyaluran kerja ke luar negeri.
Lebih dari itu, tragedi Azwar seharusnya menjadi momentum refleksi nasional. Negara harus memperkuat sistem perlindungan bagi para pekerja migran Indonesia—agar mereka tidak hanya dipandang sebagai penyumbang devisa, tapi sebagai manusia yang layak dijaga hak dan martabatnya.
Semoga senyum Azwar tidak sekadar menjadi kenangan, tapi juga penggerak perubahan.
Tim Redaksi




















