SIMALUNGUN – Selasa, 02/13/2025, Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Simalungun. Situasi ini paling terasa di Kecamatan Hatonduhan, di mana sejumlah pedagang minyak eceran menaikkan harga Pertalite secara drastis hingga mencapai Rp 15.000 per liter. Kondisi tersebut membuat masyarakat pedesaan, yang sangat bergantung pada BBM untuk aktivitas sehari-hari, semakin terbebani.

Ketika ditanyai terkait alasan kenaikan harga yang tidak wajar, beberapa pedagang eceran berdalih bahwa mereka juga menghadapi kesulitan memperoleh BBM dari SPBU. Seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan saat membeli BBM.

“Minyak sekarang sangat langka, susah sekali dapat dari SPBU. Kami harus berjibaku, dan ada biaya tambahan yang harus dibayar, satu jerigen dikenakan Rp10 ribu. Jadi kami terpaksa menaikkan harga,” ujarnya.

Alasan ini kerap diulang oleh banyak pedagang, meskipun kenaikan harga yang mereka lakukan jauh melebihi biaya tambahan tersebut, sehingga menimbulkan dugaan adanya praktik mengambil untung berlebihan di tengah kesulitan warga.

Dalam dua bulan terakhir, sejumlah daerah di Sumatera Utara terdampak bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor. Kejadian tersebut merusak akses jalan dan memperlambat distribusi BBM ke wilayah-wilayah terpencil.

Kecamatan Hatonduhan yang berada jauh dari pusat distribusi BBM menjadi salah satu wilayah yang paling terkena dampaknya. Minimnya SPBU, jarak yang jauh, serta akses jalan yang sulit membuat pasokan semakin tidak stabil.

Situasi ini semakin membuka celah bagi pedagang eceran untuk memainkan harga demi keuntungan pribadi.

Selain pedagang eceran di pinggir jalan, kelangkaan BBM juga dimanfaatkan oleh sejumlah pemilik angkutan umum. Berdasarkan laporan masyarakat, terdapat oknum sopir angkot yang mengisi tangki kendaraan hingga penuh di SPBU, kemudian menyedot BBM tersebut di rumah untuk dijual kembali secara eceran dengan harga tinggi.

Modus ini tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga berpotensi menyalahi aturan distribusi BBM bersubsidi.

Kondisi pedesaan yang jauh dari SPBU membuat masyarakat tidak memiliki banyak pilihan. Mereka tetap membeli Pertalite dengan harga tinggi demi menjalankan aktivitas harian seperti:

  • Mengangkut hasil pertanian
  • Berangkat bekerja
  • Mengantar anak sekolah
  • Mengakses layanan kesehatan

“Walaupun mahal, apa boleh buat. Kami tetap butuh minyak untuk bekerja,” ujar seorang warga Hatonduhan yang ditemui di salah satu kios eceran.

Harga BBM yang melambung juga berdampak pada naiknya biaya transportasi, berkurangnya pendapatan petani, dan terhambatnya aktivitas ekonomi masyarakat.

Warga berharap pemerintah Kabupaten Simalungun, pemerintah provinsi, serta aparat penegak hukum dapat segera turun tangan untuk:

  • menstabilkan pasokan BBM di Kecamatan Hatonduhan,
  • menindak praktik penimbunan dan permainan harga,
  • serta memastikan pendistribusian BBM mengikuti aturan yang berlaku.

Masyarakat menilai, kelangkaan BBM tidak boleh dibiarkan menjadi celah bagi pedagang nakal untuk meraup keuntungan di tengah bencana yang sedang dihadapi banyak daerah di Sumatera Utara.

Kelangkaan BBM dan melonjaknya harga Pertalite di Kecamatan Hatonduhan menjadi peringatan keras tentang pentingnya pengawasan ketat terhadap distribusi energi, terutama di wilayah yang jauh dari pusat kota. Pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah cepat dan strategis agar masyarakat pedesaan tidak terus menjadi korban spekulasi dan permainan harga oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.


Tim Redaksi