Jakarta, 23 September 2026 — Kelanjutan rencana pembangunan Jalan Tol Simpang Panei–Parapat menjadi salah satu agenda utama dalam audiensi Bupati Simalungun, Dr. H. Anton Achmad Saragih, dengan Direktur Jenderal Kekuatan Pertahanan (Dirjen Kuathan) Kementerian Pertahanan RI, H. Haris Haryanto, di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Pertemuan tersebut membahas pengembangan infrastruktur strategis di Kabupaten Simalungun, termasuk rencana pembangunan ruas Tol Simpang Panei–Parapat yang dinilai memiliki peran penting dalam meningkatkan konektivitas wilayah, mendorong pertumbuhan ekonomi, mengembangkan sektor pariwisata, sekaligus memperkuat infrastruktur pertahanan di Sumatera Utara.

Dalam pertemuan tersebut, Bupati didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Simalungun, Mixnon Andreas Simamora, serta jajaran perangkat daerah terkait, antara lain Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang dan Badan Perencanaan Pembangunan dan Inovasi Daerah (Bapperida).

Sementara itu, Dirjen Kuathan Kemhan didampingi Direktur Fasilitas dan Jasa (Dir Fasjas) Ditjen Kuathan beserta jajaran.

Ruas Tol Simpang Panei–Parapat direncanakan memiliki panjang sekitar 40,36 kilometer, dengan sekitar 38 kilometer di antaranya melintasi wilayah Kabupaten Simalungun. Kehadiran jalan tol tersebut diharapkan dapat membuka akses konektivitas yang lebih baik menuju kawasan Parapat dan Danau Toba, sekaligus memperkuat keterhubungan wilayah Simalungun dengan jaringan jalan tol nasional.

Hingga saat ini, proses perencanaan telah memasuki tahap penyusunan Basic Design dan Studi Kelayakan (Feasibility Study) dengan progres sekitar 90 persen. Proses tersebut melibatkan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Hutama Marga Waskita bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Pemerintah Kabupaten Simalungun memandang kelanjutan proyek tersebut sebagai langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Selain memperlancar mobilitas masyarakat, keberadaan jalan tol diproyeksikan memberikan dampak positif terhadap sektor perdagangan, peningkatan investasi, pengembangan pariwisata, serta peningkatan pendapatan asli daerah.

Bupati Simalungun menegaskan bahwa pembangunan Tol Simpang Panei–Parapat bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan menyangkut masa depan konektivitas dan perekonomian masyarakat Simalungun.

“Dengan sekitar 38 kilometer ruas tol berada di wilayah kami, pemerintah daerah berharap proses perencanaan dan tahapan pembangunan dapat terus berlanjut hingga terealisasi,” ujar Bupati.

Selain mendukung akses menuju kawasan strategis Danau Toba, Bupati menyampaikan bahwa keberadaan ruas tol tersebut diharapkan dapat membuka peluang investasi, memperlancar distribusi barang dan jasa, menciptakan aktivitas ekonomi baru, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam pembahasan tersebut, Pemkab Simalungun juga menyampaikan gagasan strategis agar sebagian desain infrastruktur jalan tol dapat dipertimbangkan untuk difungsikan sebagai landasan darurat pesawat tempur.

Lokasi yang direncanakan berada sekitar 3 kilometer dari pintu Tol Simpang Panei. Konsep tersebut diusulkan untuk diintegrasikan sejak tahap perencanaan dan penyusunan desain dasar, sehingga aspek pertahanan dapat dipertimbangkan secara terpadu dengan pembangunan infrastruktur sipil.

Pihak Kementerian Pertahanan menyambut positif usulan tersebut. Integrasi fungsi pertahanan sejak awal perencanaan dinilai dapat memberikan manfaat strategis sekaligus mengurangi kebutuhan penyesuaian konstruksi dalam skala besar di masa mendatang.

Dengan demikian, infrastruktur tersebut diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai sarana konektivitas ekonomi, tetapi juga dapat mendukung aspek pertahanan dan ketahanan wilayah secara nasional.

(Tim)