Simalungun – Deru mesin truk yang perlahan meninggalkan halaman Nagori Buntu Bayu, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun, Senin (12/01/2026), bukan sekadar suara kendaraan yang berangkat. Ia menjadi penanda bergeraknya nurani kolektif sebuah kampung—tentang kepedulian, empati, dan ikatan kemanusiaan yang melampaui batas wilayah.

Pemerintah Nagori Buntu Bayu secara resmi melepas 1 unit truk bermuatan bantuan kemanusiaan yang ditujukan bagi para korban bencana di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga, wilayah yang beberapa waktu lalu dilanda musibah dan meninggalkan duka mendalam bagi warganya.

Pelepasan bantuan dilakukan langsung oleh Pangulu Nagori Buntu Bayu, Palan Manurung, disaksikan seluruh perangkat nagori, tokoh masyarakat, serta perwakilan warga. Momentum tersebut berlangsung khidmat, sarat makna, sekaligus menjadi simbol kuat persatuan dan kepedulian sosial masyarakat Buntu Bayu.

Bantuan yang dikirimkan berupa sembako dan kebutuhan pokok, hasil dari donasi swadaya masyarakat, ditambah kontribusi para pengusaha lokal yang dengan sukarela menyisihkan sebagian rezekinya. Setiap karung beras, dus mi instan, hingga kebutuhan dasar lainnya, menyimpan niat tulus untuk meringankan beban saudara-saudara yang tengah berjuang memulihkan kehidupan pascabencana.

Dalam sambutannya, Pangulu Palan Manurung menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar bentuk kepedulian sesaat, melainkan wujud nyata nilai gotong royong yang telah lama hidup dan mengakar di tengah masyarakat Buntu Bayu.

“Bantuan ini mungkin tidak seberapa, namun kami berharap dapat sedikit meringankan beban saudara-saudara kita di Tapanuli Tengah dan Sibolga. Kami berdoa semoga perjalanan bantuan ini lancar, tiba dengan selamat di lokasi, dan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.

Lebih jauh, ia juga mengajak seluruh warga untuk menjadikan peristiwa ini sebagai pengingat bahwa bencana bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Karena itu, kepedulian dan solidaritas harus terus dirawat, tidak hanya saat musibah terjadi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Di akhir doa dan harapannya, Pangulu Buntu Bayu menyampaikan permohonan agar Tahun 2026 dan tahun-tahun mendatang menjadi masa yang lebih baik—masa di mana masyarakat dijauhkan dari mara bahaya, bencana, serta diberikan kekuatan dan kesehatan dalam menjalani kehidupan.

Aksi kemanusiaan ini menegaskan satu pesan penting: di tengah keterbatasan, kepedulian selalu menemukan jalannya. Dari Nagori Buntu Bayu, solidaritas itu bergerak—menembus jarak, menyentuh luka, dan menguatkan harapan. (Tim)