SIMALUNGUN – Perkebunan Nusantara IV, atau yang dikenal sebagai PalmCo, telah resmi mengambil alih pengelolaan perkebunan sawit terluas di dunia. Palmco adalah merupakan yang terus memacu peningkatan produksi Tandan Buah Segar (TBS), dimana targetnya adalah agar dapat menghasilkan rendemen minyak Crude Palm Oil (CPO) yang berkualitas dan bermutu. CPO yang berkualitas tinggi tentunya adalah tergantung cara management perkebunan melakukan pengelolaan di lapangan, dalam pengangkutan TBS adalah salah satunya termasuk di dalamnya, seperti dengan cepat mengangkut hasil panen dari lokasi TPH ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS).

BACQ JUGA : Unit Jantanras Polres Simalungun Berhasil Ungkap Kasus Curas.

Keterlambatan pengangkutan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) akan menurunkan mutu TBS dan selanjutnya mempengaruhi proses pengolahan, kapasitas olah, dan mutu produk. Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu CPO adalah buah bermutu buruk, buah terlambat pengangkutan (restan), buah luka, dan lainnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa masalah penurunan mutu CPO disebabkan oleh rendahnya rendemen minyak kelapa sawit (CPO) dan tingginya kandungan Free Fatty Acid (FFA) dalam CPO. Rendemen minyak yang rendah karena mutu buah yang buruk. Kandungan FFA CPO tinggi karena mutu buah buruk, buah restan (terlambat pengangkutan), dan buah luka.

Namun, yang terjadi di Regional II Kebun Unit Gunung Bayu yang secara geografis terletak di Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, tepatnya di afdeling V (Lima) blok 05 V tahun tanam 2005 diduga malah berbanding terbalik. Dimana buah TBS yang restan justru banyak yang tidak diangkut dari lapangan (selama 24 jam) ke PKS sehingga buah sawit yang tidak diangkut tersebut tampak sudah mulai layu dan membusuk.

Hasil investigasi awak media Anews-chanel.com dilapangan sekitar pukul 10.15 wib, Selasa (02/07/2024) di lokasi areal HGU yang berada tepat di pinggir jalan menuju Kantor Kecamatan Bosar Maligas, salah seorang yang mengaku karyawan yang ditemui dilokasi dan enggan namanya dituliskan saat ditanya terkait adanya TBS yang tidak terangkat melebihi dari 24 Jam, dan bahkan ditemukan TBS malah dibakar, pria berbadan kurus tersebut mengatakan bahwa buah restan di areal perkebunan sudah terjadi berkisar seminggu. ” Buah restan di kebun ini sudah terjadi sekitar semingguan bang, jangan tanya saya ya bang, tanya pimpinan lah, bukan ranah saya menjawabnya “. Ucap lelaki yang mengaku sebagai karyawan di PTPN IV Unit Gunung Bayu tersebut.

Tidak sampai disitu awak media juga mencoba menanyakan lokasi afdeling yang saat ini terjadi buah TBS restan, pria tersebut langsung beranjak meninggalkan awak media. Asisten Tanaman afdeling V (Lima) belum dapat ditemui dan dikonfirmasi, namun Asisten Kepala (Askep) Feri Maruli Saragih dikonfirmasi melalui pesan aplikasi WhatsApp dengan mengirimkan video adanya buah restan yang mencapai puluhan ton, brondolan juga tampak tidak dikutip dan dibiarkan berserakan selain itu adanya ditemukan pembakaran TBS yang masih dapat diolah untuk menghasilkan CPO di areal HGU milik PTPN IV Unit Gunung Bayu ” Masih ada aj Orang-orang yang gratil di musim paceklik seperti ini.Terima kasih lah Pak infonya..Mauliate. tulis Feri Maruli Saragih menjawab konfirmasi awak media yang dikirimkan melalui WhatsApp serta mengirimkan video bahwa pembakaran TBS sedang dipadamkan.

Baca Juga : PTPN IV Regional II Tinjowan Serahkan Bantuan Sembako Ke Warga Nagori Desa Huta Parik

Tantangan Indonesia saat ini adalah menjaga kepercayaan konsumen CPO dari isu-isu negatif tentang kelapa sawit yang sedang berkembang dengan cara tetap memproduksi CPO yang bermutu dan bersertifikat secara nasional dan internasional. Indonesia juga harus dapat terus bersaing di pasar minyak nabati dunia bersama negara produsen lainya seperti Malaysia yang memenuhi kebutuhan dalam negeri; serta meningkatkan pertumbuhan perekonomian negara. Namun jika hal seperti ini terus dibiarkan maka kerugian negara sudah tampak terlihat dan dalam pengelolaannya pimpinan pucuk PTPN IV dan Regional II dapat dinilai gagal dalam memimpin perusahaan Badan Usaha Milik Negara.(A.S)