Simalungun – Langkah konkret memperkuat sinergi antara kekuatan politik dan moral ditunjukkan DPC Partai Gerindra Simalungun melalui silaturrahmi dan buka puasa bersama Tuan Guru Batak, Syech Ahmad Sabban Rajagukguk Elrahmany, M.A., di Persulukan Serambi Babussalam, Simalungun.

Kegiatan ini dipimpin langsung Ketua DPC Gerindra Simalungun yang juga Wakil Bupati Simalungun, Benny Gusman Sinaga, bersama Wakil Ketua DPRD Simalungun Bona Uli Rajagukguk, serta jajaran pengurus partai.

Di tengah dinamika sosial dan tantangan pembangunan, pertemuan ini bukan sekadar agenda seremonial Ramadan, melainkan penegasan arah bahwa kepemimpinan harus berpijak pada nilai, spiritualitas, serta keberpihakan nyata kepada masyarakat.

Gerindra Simalungun secara tegas memposisikan sinergi umara–ulama sebagai pilar strategis dalam menjaga stabilitas sosial dan memperkuat kohesi masyarakat, sekaligus memastikan kebijakan publik tetap berlandaskan nilai keadilan dan kemanusiaan.

“Ramadan adalah momentum konsolidasi nilai. Kepemimpinan tidak cukup hanya dengan kebijakan, tetapi harus ditopang kepekaan sosial dan kedekatan dengan ulama serta masyarakat,” tegas perwakilan rombongan.

Dalam tausiyahnya, Syech Ahmad Sabban Rajagukguk Elrahmany, M.A. mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa nilai akan kehilangan arah. Ia menekankan pentingnya integritas, keikhlasan, serta keberanian untuk berpihak kepada umat, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan.

“Amanah harus dijaga dengan hati yang bersih dan keberanian untuk berpihak kepada yang lemah. Di situlah letak kekuatan seorang pemimpin,” ujarnya.

Sebagai wujud nyata kepedulian, kegiatan ini juga dirangkai dengan bakti sosial berupa santunan kepada anak-anak yatim, kaum dhuafa, serta para santri. Penyerahan santunan dilakukan secara langsung, menghadirkan kebahagiaan dan harapan bagi mereka yang membutuhkan, khususnya di bulan penuh berkah ini.

Aksi sosial ini menjadi penegasan bahwa kehadiran Gerindra tidak berhenti pada ruang politik, tetapi menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Politik dimaknai sebagai sarana pengabdian, bukan sekadar perebutan kekuasaan.

Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terlihat jelas dalam interaksi antara tokoh politik, ulama, dan masyarakat. Kehadiran para pimpinan daerah di tengah anak-anak yatim dan masyarakat menjadi simbol kepemimpinan yang hadir, peduli, dan membumi.

Momentum ini sekaligus mengirimkan pesan kuat bahwa pembangunan Simalungun ke depan harus berjalan seimbang: antara fisik dan spiritual, antara kebijakan dan nilai, serta antara kekuasaan dan kepedulian sosial.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Tuan Guru Batak, memohon keberkahan, keselamatan, serta kemajuan bagi masyarakat Simalungun.

Ramadan pun kembali ditegaskan bukan hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai ruang pembuktian—bahwa kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang hadir di tengah rakyat, peduli kepada yang lemah, dan teguh berpegang pada nilai-nilai kebaikan.


Tim